Internasional

AS Rogoh Hingga Rp16 Triliun Sehari Lawan Drone Iran Rp338 Juta

Rudal Iralln menghantam Tel Aviv (Foto: Reuters)

Editorialkaltim.com – Besarnya biaya perang yang dikeluarkan Amerika Serikat untuk menghadapi serangan Iran mulai memicu kritik di Washington. Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut harus menggelontorkan dana hingga sekitar Rp16 triliun setiap hari untuk menghadapi serangan yang sebagian menggunakan drone murah milik Iran.

Sejumlah laporan media Amerika Serikat menyebut anggota parlemen mulai mempertanyakan besarnya pengeluaran militer tersebut. Mereka menilai biaya operasi yang dikeluarkan pemerintah sangat besar dibandingkan dengan harga amunisi yang digunakan Iran.

MS NOW melaporkan dua anggota Kongres menyebut perang Amerika Serikat terhadap Iran menghabiskan sekitar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp16,8 triliun per hari. Sementara itu, Politico melaporkan kalangan Partai Republik mendengar bahwa Pentagon bahkan bisa menghabiskan hingga 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp33 triliun setiap hari dalam konflik tersebut.

Baca  Icon of The Seas Kapal Pesiar Seukuran 5 Kali Titanic Bakal Berlayar Januari 2024

Perbedaan biaya menjadi sorotan karena sebagian besar serangan Iran menggunakan drone Shahed-136 yang relatif murah. Drone tersebut diperkirakan hanya bernilai sekitar 20.000 hingga 50.000 dolar AS atau sekitar Rp338 juta hingga Rp843 juta per unit.

Sebaliknya, Amerika Serikat harus menggunakan sistem pertahanan udara dan amunisi berteknologi tinggi yang harganya jauh lebih mahal untuk menangkal serangan tersebut.

Center for Strategic & International Studies (CSIS) memperkirakan biaya amunisi Amerika Serikat saja mencapai sekitar 758 juta dolar AS atau sekitar Rp12,7 triliun per hari.

CSIS merinci berbagai senjata yang digunakan dalam operasi militer tersebut. Rudal Tomahawk misalnya, memiliki harga sekitar 2 juta hingga 3 juta dolar AS atau sekitar Rp33 miliar sampai Rp50 miliar per unit. Sementara itu, 100 drone kamikaze diperkirakan menelan biaya sekitar 3,5 juta dolar AS atau sekitar Rp59 miliar.

Baca  Di Australia, Pekerja Bisa Tolak Panggilan Telepon Bos di Luar Jam Kerja

Selain itu, sistem pencegat rudal balistik THAAD diperkirakan mencapai 12,8 juta dolar AS atau sekitar Rp215 miliar. Drone tempur MQ-9 Reaper bahkan memiliki harga sekitar 30 juta dolar AS atau sekitar Rp505 miliar.

Sementara itu, kit pemandu JDAM yang digunakan untuk mengubah bom konvensional menjadi bom presisi diperkirakan berharga sekitar 80.000 dolar AS atau sekitar Rp1,3 miliar.

Besarnya perbedaan biaya tersebut membuat sejumlah analis militer menilai Iran kemungkinan sedang menerapkan strategi perang atrisi atau attrition war.

Strategi ini berfokus pada konflik jangka panjang yang dirancang untuk menguras kemampuan ekonomi lawan. Dengan menggunakan senjata murah namun diluncurkan secara masif, lawan dipaksa mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar untuk mempertahankan diri.

Baca  Influencer Diet Makanan Mentah Zhanna D'Art Meninggal Dunia, Diduga Akibat Kelaparan

Dalam praktiknya, Iran sering meluncurkan serangan udara secara serentak atau salvo attacks guna menjenuhkan sistem pertahanan udara lawan.

Pemimpin minoritas DPR di Kongres, Hakeem Jeffries, juga menyoroti besarnya dana yang digunakan pemerintah untuk konflik tersebut.

“Tapi mereka tidak bisa memberikan sepeser pun untuk biaya berobat yang terjangkau bagi warga Amerika. Mereka juga tidak bisa memberi uang untuk mempermudah warga Amerika yang bekerja keras membeli rumah pertama mereka, dan tidak bisa memberi uang untuk menurunkan tagihan belanja warga Amerika,” katanya kepada wartawan di Capitol Hill pekan lalu, seperti dikutip Al Jazeera.(ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button