KaltimKukarTokoh

Profil Julita Rista Lestari, Siswi Asal Tabang yang Lolos Seleksi Paskibraka Nasional 2026

Julita Rista Lestari berhasil mengharumkan nama Kutai Kartanegara (Kukar) usai lolos seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional 2026 (Foto: Editorialkaltim/Runo)

Editorialkaltim.com – Julita Rista Lestari berhasil mengharumkan nama Kutai Kartanegara (Kukar) usai lolos seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional 2026. Siswi SMA Negeri 1 Tabang itu akan mewakili Kalimantan Timur di tingkat nasional setelah melewati proses seleksi yang panjang dan ketat.

Remaja yang akrab disapa Tata tersebut berasal dari Kecamatan Tabang, Kukar. Ia lahir di Umaq Dian pada 1 Juli 2010. Selain aktif sebagai pelajar, Tata juga dikenal memiliki sederet prestasi di sekolah.

Beberapa capaian terbaik yang berhasil diraihnya antara lain lolos seleksi Paskibraka, menjadi peringkat satu di kelas, menjabat Ketua OSIS SMA Negeri 1 Tabang, hingga dipercaya sebagai Koordinator Sekbid Pramuka. Di luar aktivitas sekolah dan latihan, Tata memiliki hobi bermain gitar dan voli.

Tata mengaku cita-cita menjadi Paskibraka muncul sejak pertama kali melihat kakak kelas latihan di sekolah. Menurutnya, anggota Paskibraka memiliki kedisiplinan dan wibawa tersendiri yang membuatnya tertarik.

“Momennya itu pas aku pertama kali lihat kakak kelas latihan di sekolah. Kelihatannya keren banget, disiplinnya dapet, dan punya wibawa beda aja kalau sudah pakai seragam. Dari situ aku langsung kepikiran kalau aku juga harus bisa ada di barisan itu suatu saat nanti,” ujarnya kepada editorialkaltim.com, Jum’at (15/5/2026).

Saat namanya diumumkan lolos ke tingkat nasional, orang pertama yang langsung dihubunginya adalah kedua orang tua. Tata menyebut dukungan keluarga menjadi kekuatan terbesar selama proses seleksi berlangsung.

“Pasti orang tua. Karena Mama sama Bapak yang paling tahu gimana usaha aku dari awal banget, dari mulai latihan fisik sendiri sampai mereka yang nggak putus-putus doain aku biar bisa sampai di titik ini,” katanya.

Perjalanan menuju level nasional diakuinya tidak mudah. Tata harus menjalani latihan fisik di bawah terik matahari sambil tetap menyelesaikan tugas sekolah tepat waktu.

“Jujur, perjuangannya lumayan berat dan menguras energi. Aku harus bisa nahan capek fisik pas latihan di bawah terik matahari, terus di sisi lain tugas-tugas di sekolah juga tetap numpuk dan harus selesai tepat waktu. Jadi benar-benar diuji mentalnya,” tuturnya.

Meski sempat minder saat melihat peserta dari daerah lain dengan persiapan yang dianggap lebih matang, Tata memilih melawan rasa tidak percaya diri tersebut.

“Awalnya sempat ada rasa minder sedikit pas lihat peserta lain yang mungkin persiapannya lebih matang. Tapi aku cepat-cepat lawan perasaan itu, karena aku yakin kalau kita punya kemauan kuat, asal daerah itu bukan penghalang buat bersaing secara sehat,” ucapnya.

Baca  Pemkot Samarinda Dorong Ekonomi Kreatif Lewat Program 10.000 Wirausaha Baru

Latihan paling berat yang pernah dijalani Tata adalah pembentukan fisik yang berlangsung nonstop. Menurutnya, seluruh peserta tetap dituntut menjaga gerakan agar rapi dan sinkron meski tubuh dalam kondisi lelah.

“Latihan pembentukan fisik yang bener-bener nonstop sih. Kita dipaksa buat ngelawan rasa lelah sendiri tapi gerakan harus tetap rapi dan sinkron sama teman-teman yang lain. Di situ kesabaran dan kerja sama tim benar-benar diuji sampai batas maksimal,” katanya.

Selama mengikuti seleksi, pengorbanan terbesar yang dirasakan Tata adalah waktu bersama keluarga dan teman-teman yang jauh berkurang. Hampir seluruh waktu libur sekolah digunakannya untuk latihan.

“Pengorbanan waktu sih yang paling berasa. Waktu buat kumpul bareng keluarga atau sekadar main sama teman-teman jadi jauh berkurang. Libur sekolah pun hampir semuanya dipakai buat fokus latihan, tapi aku jalani dengan senang hati demi mimpi ini,” ungkapnya.

Untuk menjaga fokus di tengah tekanan dan persaingan ketat, Tata memilih lebih fokus pada kemampuan diri sendiri dibanding memikirkan peserta lain.

“Aku biasanya tarik napas dalam-dalam dulu, terus ingat lagi niat awal aku ikut seleksi ini buat apa. Aku lebih milih fokus ke performa diri sendiri aja daripada terlalu mikirin persaingan, biar mental tetap tenang dan stabil,” ujarnya.

Ia juga memiliki kebiasaan unik sebelum latihan maupun seleksi. Tata selalu minum banyak air putih dan menyempatkan diri berbicara di depan cermin untuk menguatkan mental.

“Kebiasaan aku itu harus minum air putih yang banyak dan sempatin waktu buat menyendiri sebentar. Aku suka bicara sama diri sendiri di depan cermin buat nguatin mental dan yakinin kalau aku pasti bisa ngelewatin hari itu dengan baik,” katanya.

Menurut Tata, dukungan paling berkesan datang dari keluarga, teman sekolah, Kakak-kakak DPPI, dan Kesbangpol yang terus memberi semangat dan ilmu baru selama proses seleksi.

“Dukungan paling berkesan itu datang dari keluarga, teman-teman sekolah, dan juga bimbingan yang luar biasa dari Kakak-kakak DPPI serta Kakak-kakak Kesbangpol. Mereka nggak cuma kasih semangat pas aku lagi drop, tapi juga kasih banyak ilmu baru yang sangat bermanfaat buat perkembangan aku,” ujarnya.

Tata menilai membawa nama Kukar di tingkat nasional merupakan kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar. Ia ingin membuktikan bahwa anak dari daerah pelosok juga mampu bersaing di level nasional.

“Ini adalah kebanggaan dan tanggung jawab besar buat aku. Aku ingin banget buktiin ke semua orang kalau anak dari daerah pelosok seperti Tabang juga bisa punya kualitas dan mental yang nggak kalah saing di tingkat nasional,” tegasnya.

Baca  Dispora Kaltim Jaring Srikandi Muda untuk Wakili Kaltim di SIYLEP 2025

Menurut Tata, tantangan terbesar generasi muda saat ini dalam menumbuhkan rasa nasionalisme adalah derasnya pengaruh budaya luar di media sosial.

“Tantangannya adalah derasnya arus informasi dan tren luar di media sosial. Terkadang anak muda sekarang lebih bangga ngikutin gaya hidup luar dibanding mencintai dan melestarikan nilai-nilai budaya bangsa kita sendiri,” katanya.

Ia juga mengaku sering membayangkan berdiri di hadapan Presiden sebagai perwakilan Kalimantan Timur apabila dipercaya mengibarkan bendera di Istana Negara.

“Pernah banget membayangkan itu, dan rasanya pasti campur aduk antara deg-degan parah sama bangga banget. Bisa berdiri di sana sebagai perwakilan Kalimantan Timur di depan Bapak Presiden adalah kehormatan seumur hidup buat aku,” tuturnya.

Bagi Tata, pencapaian ini ingin dijadikannya bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

“Aku ingin membuktikan kalau keterbatasan itu bukan alasan buat berhenti bermimpi. Selama kita punya tekad yang kuat, kerja keras yang nyata, dan dukungan yang tepat, jalan menuju kesuksesan pasti bakal terbuka lebar,” ujarnya.

Untuk membagi waktu antara sekolah, latihan, dan kehidupan pribadi, Tata mengaku menerapkan skala prioritas agar semuanya tetap seimbang.

“Kuncinya ada di skala prioritas. Aku harus pintar-pintar atur jadwal, misalnya kalau lagi istirahat latihan aku sempatin buat nyicil tugas sekolah. Jadi antara akademik dan kegiatan Paskibraka bisa tetap seimbang,” katanya.

Nilai paling penting yang dipelajarinya selama menjadi calon Paskibraka adalah kedisiplinan, tanggung jawab, serta adab dan etika.

“Aku belajar gimana cara menghargai senior, pembina, dan sesama rekan. Karena sepintar atau sehebat apa pun kita, tanpa adab yang baik, semuanya nggak akan ada harganya,” ujarnya.

Tata menyebut sosok yang paling menginspirasinya hingga bisa berada di titik saat ini adalah orang tua, Kakak-kakak DPPI, dan Kesbangpol.

“Orang tua adalah penguat doa aku, Kakak DPPI adalah contoh nyata karakter yang aku kagumi, dan Kakak Kesbangpol adalah sosok yang sabar membimbing aku dari nol,” katanya.

Menurut Tata, generasi muda Kalimantan Timur memiliki daya juang tinggi dan mental tangguh dibanding daerah lain karena terbiasa menghadapi tantangan alam.

“Kita punya daya juang yang sangat tinggi dan mental yang tangguh karena terbiasa dengan tantangan alam. Selain itu, rasa kekeluargaan dan persaudaraan kita di Kaltim itu sangat kental dan solid banget,” ucapnya.

Meski demikian, Tata mengaku tetap akan bangga dengan seluruh perjuangan yang telah dilaluinya meski suatu hari mengalami kegagalan.

Baca  Ratusan Jamaah Kukar Siap Berangkat, Manasik Haji Massal Dimulai

“Aku tetap bangga karena sudah berani melangkah sejauh ini dan keluar dari zona nyaman. Pengalaman, mental baja, dan ilmu yang aku dapat selama proses seleksi ini sudah lebih dari cukup untuk bikin aku jadi pribadi yang lebih baik lagi,” katanya.

Setelah mengikuti Paskibraka Nasional, Tata memiliki mimpi untuk terus berkarya dan menjadi inspirasi bagi anak muda di Kukar.

“Mimpi aku adalah ingin terus berkarya dan jadi inspirasi buat teman-teman di daerah. Aku juga ingin membagikan ilmu yang aku dapat supaya lebih banyak lagi anak muda di Kukar yang berani buat ngejar mimpi mereka,” ujarnya.

Ia juga berpesan kepada pelajar di Kukar agar tidak takut bermimpi besar meski berasal dari daerah.

“Jangan pernah takut buat bermimpi besar meskipun kita dari daerah. Yang penting itu niat, mau kerja keras, dan jangan pernah lupa minta doa restu orang tua karena itu adalah kunci keberhasilan yang paling utama,” pesannya.

Jika diberi kesempatan memperkenalkan Kukar di tingkat nasional, Tata ingin menunjukkan kearifan lokal, keindahan alam, dan keramahan masyarakat Kukar.

“Aku ingin memperkenalkan kearifan lokal kita, keindahan alamnya, serta kerukunan dan keramahan masyarakat di Kutai Kartanegara yang sangat luar biasa,” katanya.

Bagi Tata, Merah Putih merupakan simbol kehormatan bangsa yang selalu menghadirkan rasa bangga setiap kali dikibarkan.

“Merah Putih itu adalah identitas, kehormatan, dan harga diri bangsa. Setiap kali melihat bendera itu berkibar, selalu ada rasa bangga dan haru yang bikin aku pengen terus kasih yang terbaik buat Indonesia,” ujarnya.

Setelah melewati seluruh proses seleksi, Tata merasa dirinya berubah menjadi lebih dewasa, disiplin, mandiri, serta lebih memahami pentingnya adab dan etika dalam kehidupan sehari-hari.

“Aku ngerasa jadi jauh lebih dewasa, mandiri, dan disiplin. Tapi perubahan yang paling aku rasakan adalah peningkatan dalam adab dan etika aku sehari-hari. Aku jadi lebih paham gimana cara menghormati orang lain dengan lebih baik,” tuturnya.

Satu kata yang paling menggambarkan perjuangan Tata menuju Paskibraka Nasional adalah “bersyukur”.

“Karena aku sangat bersyukur atas setiap proses, tantangan, dan dukungan yang ada. Dengan rasa syukur dan sikap ikhlas, semua perjuangan yang berat ini justru terasa sangat indah dan jadi kebanggaan tersendiri buat aku,” pungkasnya.(ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button