KaltimSamarinda

Harga Dexlite Naik, Inflasi Kaltim Terancam

Pengamat Ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) Purwadi Purwoharsodjo (Foto: Editorialkaltim/Adryan)

Editorialkaltim.com – Kenaikan harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai Kamis (3/9/2026) mendapat sorotan. Pertamina menaikkan harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Harga Pertamax Turbo naik dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter. Sementara itu, Dexlite meningkat dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter dan Pertamina Dex dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter.

Pengamat Ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) Purwadi Purwoharsodjo menilai kenaikan harga Dexlite berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan memicu inflasi di Kaltim. Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari kebutuhan solar nasional yang masih bergantung pada impor.

Baca  Mahasiswa KKN Unmul Sulap Limbah Jadi Pupuk Cair

“Memang solar kita itu masih impor 60 persen dari luar negeri,” paparnya, Sabtu (5/9/2026).

Kenaikan harga Dexlite berpotensi menambah biaya transportasi dan distribusi barang. Dampaknya dinilai semakin terasa bagi angkutan barang yang menggunakan Dexlite, termasuk armada distribusi kebutuhan pokok.

“Kalau mobil, apalagi truk-truk sembako kalau dia pakai solar subsidi, oke ya mungkin masih bisa terjangkau. Tapi kalau dia pakai Dexlite juga, bisa menjadi tekanan inflasi juga menurut saya,” katanya.

Purwadi menilai pemerintah perlu memberikan perhatian khusus terhadap persoalan tersebut. Kenaikan harga bahan bakar berpotensi meningkatkan ongkos distribusi yang kemudian dapat berdampak pada harga barang di tingkat konsumen.

Baca  Komisi II DPRD Kaltim Soroti Pembangunan Aset Jangka Panjang Pemprov

“Sering kali saya bilang, Kaltim ini harusnya dapat privilege,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan pembangunan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan belum sepenuhnya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar seperti yang diharapkan. Investasi proyek yang mencapai Rp132 triliun itu dinilai belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri.

“Itukan janjinya Menteri ESDM yang diklaim bisa menghemat Rp68 triliun per tahun dari impor solar itu,” ujarnya.

Baca  Singapura dan Estonia Jadi Contoh Pengembangan Infrastruktur AI Samarinda

Ia mengungkapkan, selama kapasitas produksi dalam negeri belum optimal, Indonesia masih menghadapi tekanan pasar global. Impor solar membutuhkan valuta asing, sementara nilai tukar dolar yang masih tinggi dapat turut meningkatkan biaya impor BBM.

“Dan itu berarti mempengaruhi terhadap kebutuhan impor solar kita ke dalam negeri dan dari luar negeri ke Indonesia,” jelasnya. (adr/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button