Opini

Festival Muara Benanga: Mengasuh Alam, Merawat Pengetahuan Perempuan

Oleh: Safaranita Nur Effendi
Peneliti Sosial Bidang Ekofeminisme

Editorialkaltim.com – Di tengah perubahan lingkungan dan semakin terdesaknya ruang hidup masyarakat adat, Festival Muara Benanga menghadirkan cara lain untuk memahami hubungan manusia dengan alam. Festival yang berlangsung di Lamin Adat Muang, Lempake, Samarinda, pada 3–4 Oktober 2026 ini bukan sekadar perayaan kebudayaan, melainkan juga ruang untuk merawat pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Melalui pameran, lokakarya, diskusi, dan panggung seni, festival ini membuka percakapan tentang tradisi, lingkungan, serta peran perempuan dalam menjaga keberlanjutan kehidupan.

Bagi saya, Festival Muara Benanga menghadirkan pertanyaan penting: apa yang sebenarnya kita rawat ketika berbicara tentang masyarakat adat?

Apakah hanya tarian, pakaian, ritual, dan benda-benda budaya? Ataukah ada sesuatu yang lebih mendalam, yakni pengetahuan tentang bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam?

Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada pemikiran Vandana Shiva, seorang pemikir ekofeminisme yang memandang krisis ekologis tidak dapat dilepaskan dari cara manusia memperlakukan alam.

Alam yang sebelumnya dipahami sebagai ruang kehidupan perlahan direduksi menjadi sumber daya yang dapat dieksploitasi, dihitung, dan dikendalikan. Dalam proses tersebut, pengetahuan lokal, termasuk pengetahuan yang selama ini dirawat perempuan, sering kali dipandang kurang penting dibandingkan dengan pengetahuan dari sistem modern.

Bagi Shiva, perempuan memiliki posisi penting dalam menjaga keberlanjutan kehidupan karena mereka dekat dengan tanah, air, hutan, pangan, dan kebutuhan sehari-hari. Mereka bukan sekadar kelompok yang menerima dampak kerusakan ekologis, melainkan juga pemilik pengetahuan dan pelaku yang terus merawat kehidupan.

Pemikiran inilah yang terasa dekat dengan pengalaman masyarakat adat di Kampung Muang.

Ketika Alam Bukan Sekadar Sumber Daya

Kampung Muang mengajak kita melihat alam melalui sudut pandang yang berbeda.

Sungai, hutan, dan tanah bukan sekadar tempat manusia tinggal. Alam menyediakan makanan, tanaman obat, dan berbagai kebutuhan hidup, sekaligus menjadi bagian dari ingatan serta kebudayaan masyarakat.

Pengetahuan tentang alam tidak selalu tertulis dalam buku. Sebagiannya hidup di rumah, dapur, halaman, kebun, dan ruang-ruang pertemuan. Pengetahuan tersebut juga tersimpan dalam ingatan perempuan yang mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Di sinilah pemikiran Vandana Shiva menemukan relevansinya. Ketika pengetahuan lokal dianggap sederhana atau bahkan tidak diakui sebagai pengetahuan, sesungguhnya kita sedang kehilangan cara lain untuk memahami kehidupan.

Sebab, pengetahuan tentang alam bukan sekadar kemampuan mengenali nama tanaman. Lebih dari itu, pengetahuan tersebut mencakup pemahaman tentang waktu tumbuh, cara pemanfaatan, batas pengambilan, serta upaya memastikan tanaman tetap tersedia bagi generasi mendatang.

Baca  Ketika Sekolah di Samarinda Menolak Galau dengan Kurikulum Merdeka, Kok Bisa?

Dalam konteks masyarakat Dayak Tunjung Benuaq, pengetahuan tersebut juga berkelindan dengan praktik kebudayaan dan ritual, termasuk Beliant, yang mencerminkan hubungan antara manusia, kesehatan, alam, dan kehidupan spiritual.

Namun, pengetahuan hanya dapat bertahan ketika ruang ekologis tempatnya tumbuh juga tetap terjaga.

Ketika Hutan Berubah, Pengetahuan Ikut Terancam

Hutan perlahan berkurang. Kebakaran terjadi, asap mengepul, dan lingkungan mengalami perubahan.

Krisis ekologis sering dibicarakan melalui angka, mulai dari luas hutan yang hilang, jumlah emisi yang dihasilkan, hingga besarnya kerugian ekonomi.

Namun, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: apa yang ikut hilang ketika alam berubah?

Mungkin sebuah tanaman obat yang semakin sulit ditemukan. Mungkin cara membaca musim yang tidak lagi diwariskan. Mungkin pengetahuan tentang sungai, cerita seorang ibu, atau ritual yang perlahan ditinggalkan.

Kehilangan tersebut tidak selalu tercatat dalam laporan kerusakan lingkungan. Padahal, dampaknya dapat menyentuh ingatan kolektif, identitas budaya, dan keberlanjutan pengetahuan masyarakat.

Karena itu, menjaga alam tidak cukup hanya dengan mempertahankan pohon, air, dan tanah. Menjaga alam juga berarti melindungi pengetahuan yang tumbuh bersama lingkungan tersebut.

Perempuan yang Merawat Pengetahuan

Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan sering memiliki kedekatan dengan berbagai kegiatan perawatan, mulai dari menyiapkan makanan, merawat keluarga, mengelola kebutuhan rumah tangga, hingga memanfaatkan tanaman di sekitar tempat tinggal.

Di balik aktivitas tersebut, terdapat pengetahuan yang tidak selalu terlihat.

Pengetahuan tentang bahan pangan yang dapat dikonsumsi, tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat, cara mengolah hasil alam, waktu panen, hingga pelaksanaan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Pengetahuan ini sering dianggap biasa karena menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Padahal, di dalamnya tersimpan pengalaman ekologis yang terbentuk melalui proses panjang.

Perempuan belajar dari lingkungan, mengingat pengalaman, mempraktikkan pengetahuan, kemudian meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Proses pewarisan tersebut menjadikan perempuan memiliki peran penting dalam menjaga hubungan antara manusia dan alam.

Ketika lingkungan berubah, ancamannya bukan hanya terhadap ketersediaan sumber daya alam, melainkan juga terhadap keberlanjutan pengetahuan perempuan.

Tanaman yang menghilang dapat membuat pengetahuan tentang pemanfaatannya ikut memudar. Perubahan bentang alam juga dapat memutus hubungan generasi muda dengan praktik-praktik yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Karena itu, perlindungan lingkungan perlu berjalan beriringan dengan pengakuan terhadap pengalaman dan pengetahuan perempuan.

Baca  Menakar Komitmen Pembangunan Berkelanjutan di Kaltim, Visi dan Misi Calon Pemimpin dalam Bingkai SDGs

Mengasuh Alam

Dari pemahaman tersebut, kami memilih satu kata sederhana: mengasuh.

Mengasuh alam bagi kami bukan sekadar menjaga lingkungan dari kerusakan. Mengasuh berarti tetap hadir, mengenalkan, mengajarkan, menemani, dan memastikan pengetahuan memiliki jalan untuk sampai kepada generasi berikutnya.

Seperti seorang ibu yang mengajarkan anaknya mengenali lingkungan, memahami tanaman yang dapat dimanfaatkan, serta mengetahui apa yang boleh diambil dan apa yang harus dibiarkan tumbuh.

Mengasuh alam juga berarti mengajarkan bahwa hutan bukan hanya kumpulan pohon, sungai bukan sekadar tempat air mengalir, dan tanah bukan hanya tempat manusia berpijak.

Di dalamnya terdapat kehidupan, sejarah, pengetahuan, dan hubungan panjang yang membentuk kebudayaan masyarakat.

Pemahaman tersebut mengajak kita membangun hubungan yang lebih penuh perhatian dengan alam.

Bukan hanya bertanya tentang apa yang dapat kita ambil, melainkan juga apa yang harus kita rawat agar tetap tersedia bagi kehidupan berikutnya.

Festival sebagai Ruang Pengetahuan

Festival Muara Benanga memperlihatkan pentingnya menghadirkan ruang bagi pengetahuan masyarakat adat, termasuk pengetahuan perempuan Dayak Tunjung Benuaq.

Pengetahuan tersebut tidak seharusnya hanya dipandang sebagai warisan yang perlu disimpan dalam arsip. Pengetahuan perlu didokumentasikan, dibicarakan, dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan.

Lebih dari itu, pengetahuan juga perlu diberi ruang untuk berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan akar kebudayaannya.

Melalui pameran, pengetahuan dapat diperlihatkan kepada masyarakat luas. Lokakarya membuka kesempatan untuk mempelajari keterampilan dan pengalaman lokal. Diskusi mempertemukan berbagai sudut pandang, sementara panggung seni menghadirkan ekspresi kebudayaan yang dapat dirasakan bersama.

Dengan demikian, festival tidak berhenti sebagai acara seremonial.

Festival menjadi ruang perjumpaan antara generasi, pengalaman, dan pengetahuan. Ruang yang mengingatkan kita bahwa masyarakat adat memiliki cara memahami kehidupan yang penting untuk didengar.

Pengalaman perempuan juga memiliki nilai yang tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.

Hubungan manusia dengan alam bukan sesuatu yang baru ditemukan melalui perbincangan tentang krisis ekologis hari ini. Hubungan tersebut telah lama hadir dalam praktik kehidupan masyarakat adat.

Anak Muda dan Ekofeminisme

Dalam ruang perjumpaan tersebut, Akar Kuning hadir sebagai kolektif muda yang mencoba merespons isu sosial-ekologis melalui pendekatan ekofeminisme.

Bagi kami, ekofeminisme tidak harus selalu disampaikan melalui istilah atau teori yang rumit.

Pendekatan ini dapat dimulai dari pertanyaan sederhana: siapa yang selama ini merawat alam? Siapa yang paling dekat dengan perubahan lingkungan? Pengetahuan siapa yang belum cukup didengar? Dan apa yang akan hilang jika kita tidak mulai merawatnya hari ini?

Baca  Belajar dari Como 1907, Klub Indonesia Jangan Hanya Hidup dari Hasil Pertandingan

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari upaya memahami hubungan antara persoalan lingkungan, pengalaman perempuan, dan kehidupan masyarakat adat.

Akar Kuning mencoba menghadirkan ruang yang inklusif dan kolektif untuk mempertemukan seni, pengetahuan, isu sosial-ekologis, perempuan, masyarakat adat, serta anak muda.

Kami percaya bahwa keterlibatan generasi muda tidak harus selalu dimulai dengan membawa jawaban atau menawarkan solusi.

Terkadang, langkah pertama yang diperlukan justru kesediaan untuk mendengar.

Mendengar cerita perempuan, pengalaman masyarakat adat, perubahan lingkungan, serta pengetahuan yang selama ini tumbuh melalui hubungan manusia dengan alam.

Mendengar sungai dan hutan, dalam pengertian memahami tanda-tanda perubahan yang terjadi di sekitar kehidupan kita.

Dari proses mendengar itulah kesadaran dapat tumbuh, sekaligus membuka kemungkinan untuk membangun hubungan yang lebih bertanggung jawab dengan lingkungan.

Merawat yang Masih Ada

Festival Muara Benanga mengingatkan kita bahwa upaya merawat tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Langkah sederhana dapat dilakukan dengan bertanya kepada ibu tentang tanaman yang tumbuh di halaman, mendengarkan cerita nenek, atau mendokumentasikan ritual yang mulai jarang dilaksanakan.

Upaya tersebut juga dapat diwujudkan dengan mengenalkan anak-anak pada hutan, memberi ruang kepada perempuan untuk bercerita, serta menghadirkan kembali pengetahuan lokal dalam kehidupan sehari-hari.

Hal-hal sederhana itu memiliki arti penting karena pengetahuan tidak akan bertahan hanya dengan disimpan.

Pengetahuan akan terus hidup ketika ada orang yang mempelajari, mempraktikkan, dan mewariskannya kembali.

Mungkin itulah makna paling sederhana dari mengasuh alam.

Memastikan apa yang kita terima dari generasi sebelumnya tidak berhenti di tangan kita, melainkan terus menemukan tempat dalam kehidupan generasi berikutnya.

Agar hutan tetap memiliki cerita, sungai tetap menyimpan ingatan, dan perempuan tetap memiliki ruang untuk menyampaikan pengetahuannya.

Agar hubungan panjang antara manusia dan alam tidak terputus akibat perubahan lingkungan maupun hilangnya ruang pewarisan budaya.

Pada akhirnya, Festival Muara Benanga bukan hanya tentang merayakan apa yang masih kita miliki.

Festival ini juga menjadi pengingat tentang berbagai hal yang mungkin hilang jika kita tidak mulai merawatnya.

Sebab, mengasuh alam pada akhirnya adalah cara lain untuk mengasuh kehidupan.(*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button