InfografisKaltimPaser

Profil Galih Resky Pratama, Putra Paser yang Lolos Ke Seleksi Paskibraka Nasional

Putra Paser yang Lolos Ke Seleksi Paskibraka Nasional (Foto: Editorialkaltim/Runo)

Editorialkaltim.com – Nama Galih Resky Pratama menjadi kebanggaan Kabupaten Paser setelah berhasil lolos sebagai Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional 2026. Siswa SMA Negeri 1 Tanah Grogot itu kini bersiap membawa nama Kalimantan Timur di tingkat nasional.

Galih yang lahir pada 30 Desember 2009 dikenal sebagai pelajar aktif dengan beragam kegiatan positif. Selain menjadi anggota Paskibra sekolah, ia juga memiliki hobi renang, dance semaphore, dan boxing. Sosok yang menjadi inspirasinya adalah Tri Sakti Paku Rimba.

Perjalanan Galih menuju seleksi nasional tidak diraihnya secara instan. Ia mengaku mulai bercita-cita menjadi Paskibraka setelah mendapat penjelasan dari para pelatih mengenai makna dan tanggung jawab seorang anggota Paskibraka.

“Momen yang membuat saya pertama kali tertarik adalah saat dijelaskan pelatih tentang Paskibraka. Saya merasa mampu dan siap menjadikan Paskibraka sebagai cita-cita saya,” katanya kepada editorialkaltim.com, Jum’at (12/6/2026).

Kabar kelolosannya ke tingkat nasional langsung ia bagikan kepada keluarga dan sahabat terdekatnya.

“Orang pertama yang saya hubungi pasti keluarga dan sahabat saya, terutama ibu dan kedua sahabat saya yaitu Lutfi dan Yahya, karena dari awal saya berjuang bersama mereka hingga sekarang,” ujarnya.

Galih mengakui perjuangan menuju tingkat nasional tidak mudah. Banyak waktu bermain yang harus dikorbankan demi latihan. Bahkan kondisi fisik dan mental terus ditempa meski dalam keadaan lelah.

Baca  Pembangunan Terfokus di Pusat Kota, Samri Pertanyakan Alokasi Anggaran

“Tentunya perjuangan saya tidak mudah. Banyak hal yang harus dikorbankan mulai dari kegiatan yang harus saya tinggalkan demi latihan, ajakan bermain teman yang saya tinggalkan, hingga fisik dan mental yang terus dilatih walaupun sakit dan lelah,” tuturnya.

Rasa minder saat bersaing dengan peserta dari daerah lain juga sempat muncul. Namun, ia berusaha mengubah perasaan tersebut menjadi motivasi untuk terus berkembang.

“Rasa minder pastinya pernah ada, tetapi saya selalu berusaha mengelola dan memotivasi diri bahwa sayalah yang terbaik,” ucapnya.

Menurut Galih, tantangan terberat bukan hanya latihan fisik, melainkan melawan diri sendiri agar tetap konsisten dalam berproses.

“Latihan yang paling berat adalah saat saya melawan diri sendiri untuk tetap konsisten dan terus berusaha karena saya berpikir ini untuk kebaikan saya,” katanya.

Selama proses seleksi, pengorbanan terbesar yang harus dilakukan adalah waktu dan tenaga. Ia harus menjaga kesehatan, berlatih disiplin, serta mengurangi berbagai kegiatan yang dianggap kurang penting.

Untuk menjaga fokus di tengah tekanan seleksi, Galih mengaku selalu mengandalkan ikhtiar dan doa. Ia juga memiliki kebiasaan unik berbicara kepada dirinya sendiri sebelum latihan maupun seleksi.

Baca  DPRD PPU Sampaikan Prioritas Pembangunan Daerah ke Bappenas

“Saya mengingatkan diri untuk tetap disiplin, fokus, dan memberikan yang terbaik pada latihan hari itu,” ungkapnya.

Dukungan keluarga dan sahabat menjadi sumber semangat terbesar. Mereka terus meyakinkan bahwa dirinya mampu mencapai tingkat nasional karena mengetahui perjuangan yang telah dilalui sejak awal.

Bagi Galih, kesempatan membawa nama Kabupaten Paser di tingkat nasional merupakan bukti bahwa putra daerah mampu bersaing dengan peserta terbaik dari seluruh Indonesia.

“Bagi saya, membawa nama Paser di ajang nasional membuktikan bahwa anak Kabupaten Paser mampu bersaing bersama seluruh anak-anak terbaik dari masing-masing provinsi di Indonesia,” katanya.

Ia juga menyoroti tantangan nasionalisme generasi muda saat ini yang menurutnya dipengaruhi pergaulan bebas sehingga berpotensi membuat anak muda kehilangan arah dan melupakan nilai-nilai kehidupan.

Jika nantinya mendapat kehormatan mengibarkan Sang Merah Putih di Istana Negara, Galih mengaku akan merasa sangat bangga karena kesempatan tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan dalam hidupnya.

“Mimpi terbesar saya setelah mengikuti Paskibraka Nasional adalah semoga hal ini membantu saya mencapai cita-cita menjadi Taruna Akpol. Bagi saya, Paskibraka adalah prestasi yang akan membantu saya mengabdi kepada negara Indonesia,” tuturnya.

Kepada pelajar di Kabupaten Paser, Galih berpesan agar tidak takut berjuang mengejar impian.

Baca  Gedung Baru RSUD AWS Ditargetkan Beroperasi Pertengahan Tahun

“Sampai di titik seperti ini bukanlah hal yang mudah. Butuh perjuangan yang mengorbankan waktu, pikiran, dan diri sendiri. Jika menginginkan sesuatu, berjuanglah dan buktikan bahwa kalian mampu,” pesannya.

Galih juga berharap dapat memperkenalkan budaya Paser di tingkat nasional, mulai dari tarian Jepin hingga alat musik Sape. Baginya, Merah Putih bukan sekadar bendera negara, melainkan simbol perjuangan, persatuan, keberanian, kejujuran, dan cita-cita bangsa.

Setelah melalui seluruh proses seleksi, ia merasakan perubahan besar dalam dirinya, terutama dalam hal kedisiplinan dan kesiapan menghadapi berbagai tantangan. Satu kata yang menggambarkan perjuangannya menuju Paskibraka Nasional adalah “kerja keras”.

“Karena tanpa kerja keras tidak akan muncul hasil yang baik dari seseorang. Jadi bekerjalah keras untuk mencapai hasil yang terbaik,” tegasnya.

Sejumlah prestasi yang pernah diraih Galih antara lain Calon Paskibraka Nasional 2026, Anggota Paskibra SMA Negeri 1 Tanah Grogot, Juara 3 Purwa Event Twins Pandawa Balikpapan, peserta Peransaka Daerah Kalimantan Timur Tahun 2025, serta Pradana Putra Pramuka SMA Negeri 1 Tanah Grogot.(ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button