
Editorialkaltim.com – Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia (ASPETRI) Kalimantan Timur menggelar sosialisasi pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA) sekaligus pelatihan meracik jamu higienis bagi masyarakat di Griya Sehat, Jalan Kesehatan Dalam Nomor 70, Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda, Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan tersebut menjadi program awal kepengurusan ASPETRI Kaltim dalam mendorong pemanfaatan tanaman herbal sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian tanaman obat khas Kalimantan.
Ketua ASPETRI Kaltim Hery Romadan mengatakan pelatihan diikuti 25 peserta yang mendapatkan materi dasar pembuatan jamu sesuai standar kesehatan. Peserta diajarkan cara memilih bahan, menjaga kebersihan alat, hingga menentukan takaran yang tepat saat meracik jamu.
“Ini salah satu kegiatan pertama kita untuk mengajari orang-orang bagaimana membuat jamu yang benar. Mulai dari wadahnya harus pakai stainless agar higienis, jenis gula yang tepat, hingga takaran yang pas,” ujarnya.
Menurut Hery, masih banyak tanaman obat asli Kalimantan yang memiliki nilai kesehatan tinggi namun belum dimanfaatkan secara optimal. Bahkan, sejumlah tanaman endemik terancam berkurang akibat pembukaan lahan yang tidak terkendali.
Ia mencontohkan tanaman tahongai dan kratom yang dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung kesehatan masyarakat. Karena itu, pelestarian tanaman herbal lokal perlu menjadi perhatian bersama.
“Bayangkan saja kayak Tahongai, tanaman asli Kalimantan itu, kalau sekali dibabat habis padahal nilainya banyak sekali. Terus ada tanaman lain seperti Kratom yang bagus sekali untuk stamina, kesehatan, dan menghilangkan capek-capek. Kalau dihabiskan, berapa nilai value-nya yang hilang? Nah, pelestarian ke depan harus dikontrol, dan Aspetri mau ambil bagian di situ,” tegasnya.
Selain meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengolahan herbal, program tersebut juga diharapkan membuka peluang ekonomi baru. Hery menyebut tren konsumsi minuman herbal saat ini terus berkembang dan mulai diminati berbagai kalangan, termasuk sektor perhotelan.
Saat ini ASPETRI Kaltim telah memiliki 24 anggota aktif yang tergabung dalam komunitas pendamping bernama Kerabat ASPETRI Kaltim. Komunitas itu menjadi wadah bagi masyarakat yang ingin belajar mengenai tanaman herbal dan pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita gabungkan mereka di Komunitas Kerabat ASPETRI Kaltim. Istilahnya ini fans club-nya lah. Jadi kalau mereka cuma mau tahu herbal sebatas untuk konsumsi keluarga, bertahap dari sekitar rumah, wadahnya di Kombat ini,” jelasnya.
Ke depan, ASPETRI Kaltim menargetkan program edukasi serupa dapat menjangkau seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur. Organisasi tersebut juga ingin mendorong pemanfaatan kembali tanaman obat keluarga yang selama ini banyak tidak terawat di pekarangan rumah warga.
“Kebiasaan-kebiasaan mandiri seperti ini yang ingin kita hidupkan kembali di tengah masyarakat Kaltim,” pungkasnya. (adr/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



