KaltimSamarinda

Deteksi Dini Digenjot, Ribuan Kasus TBC Ditemukan di Samarinda

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Samarinda, Nata Siswanto (Foto: Editorialkaltim/Salman)

Editorialkaltim.com – Dinas Kesehatan Kota Samarinda terus memperkuat langkah deteksi dini tuberkulosis (TBC) guna menekan penyebaran penyakit menular tersebut. Tingginya angka kasus yang ditemukan disebut sejalan dengan semakin luasnya kegiatan skrining di tengah masyarakat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Samarinda, Nata Siswanto, menjelaskan peningkatan jumlah temuan kasus tidak serta-merta mencerminkan lonjakan penularan. Ia menyebut kondisi tersebut lebih dipengaruhi intensitas pemeriksaan yang terus diperluas.

“Semakin kita intens melakukan deteksi dini, maka secara otomatis kasus yang ditemukan akan semakin tinggi,” ujarnya, Senin (13/4/2026), Samarinda.

Baca  Mahasiswa Kaltim Gelar Aksi Pencerdasan Publik Evaluasi 10 Tahun Pemerintahan Jokowi

Sepanjang 2025, Dinkes Samarinda mencatat sekitar 19 ribu hingga 20 ribu warga telah menjalani skrining TBC. Dari total tersebut, kurang lebih 4 ribu orang dinyatakan positif. Data ini dinilai menjadi pijakan awal dalam upaya pengendalian penyakit secara lebih terarah.

Nata menilai, temuan kasus sejak awal akan mempermudah proses penanganan dan memutus rantai penularan. Upaya tersebut dinilai krusial agar penyebaran tidak meluas di lingkungan masyarakat.

“Untuk tahun ini memang ada keterbatasan anggaran, termasuk ketersediaan bahan habis pakai yang belum mencukupi,” jelasnya.

Baca  DPRD Samarinda Respons Aspirasi Pedagang Pasar Pagi, Laila Fatihah Janji Koordinasi dengan Pemkot

Memasuki 2026, pelaksanaan program menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait efisiensi anggaran serta keterbatasan bahan pemeriksaan. Meski demikian, layanan deteksi dan pengobatan tetap dijalankan dengan memaksimalkan sumber daya yang tersedia.

Selain itu, dukungan dari pemerintah provinsi maupun pusat diharapkan dapat membantu memperkuat pelaksanaan program melalui bantuan maupun hibah. Koordinasi lintas sektor juga terus dilakukan agar penanganan berjalan lebih optimal.

“Penanggulangan TBC tidak bisa hanya dilakukan oleh Dinas Kesehatan, tetapi harus melibatkan semua elemen masyarakat,” tegasnya.

Di sisi lain, Dinkes juga mencatat kasus HIV di Samarinda sepanjang 2025 mencapai 492 kasus. Penanganan HIV disebut memiliki pola serupa dengan TBC, terutama dalam hal deteksi dini serta pengobatan berkelanjutan.

Baca  Semarakkan Pameran Kesehatan 2024, Kantor Cabang Samarinda Gerai Layanan BPJS Kesehatan

Nata menambahkan, penanggulangan TBC dan HIV menjadi bagian dari Standar Pelayanan Minimal yang harus dipenuhi pemerintah daerah, sehingga upaya pengendalian kedua penyakit tersebut akan terus menjadi prioritas ke depan.(sal/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button