Nasional

Darurat Sampah Laut, Sungai Watch Gelar Operasi Serentak di Bali dan Alas Purwo

Operasi Pemungutan Sampah Plastik di Alas Purwo. (Foto: Doc Sungai Watch)

Editorialkaltim.com — Organisasi lingkungan Sungai Watch menggelar operasi darurat secara bersamaan di Bali dan Taman Nasional Alas Purwo, menyusul penumpukan masif sampah plastik laut akibat perubahan arus monsun.

Operasi dilakukan di Pantai Kedonganan, Bali, serta kawasan Alas Purwo di Banyuwangi, Jawa Timur. Kedua wilayah tersebut dinilai sebagai garis pantai strategis yang saat ini menahan laju sampah plastik sebelum terbawa arus ke Samudra Hindia.

Co-Founder Sungai Watch, Gary Bencheghib, menyebut fenomena ini tergolong luar biasa karena pergerakan sampah laut terjadi secara tidak lazim dan terkonsentrasi di dua lokasi penting pada waktu yang bersamaan.

“Situasi ini belum pernah kami hadapi sebelumnya. Sampah laut bergerak sangat tidak terduga. Di Bali, pada hari-hari puncak, lebih dari 17 ton sampah kami angkat sebelum tengah hari, namun keesokan harinya pantai kembali tertutup sampah,” ujar Gary, Minggu (1/2/2026).

Baca  Prabowo Subianto Siapkan Rp 800 Miliar/Hari untuk Program Makan Bergizi Gratis

Gary menjelaskan, Bali dan Alas Purwo merupakan titik penyaringan terakhir sebelum sampah plastik terbawa arus ke Samudra Hindia, dengan potensi menyebar hingga ke Australia, Afrika Timur, dan Kepulauan Pasifik.

Di Bali, sebaran sampah terpantau dari Jimbaran hingga Canggu, dengan kondisi terparah di Pantai Kedonganan. Pada Minggu (11/1/2026), lebih dari 1.000 relawan dikerahkan dan berhasil mengumpulkan 17.300 kilogram sampah hanya dalam empat jam. Secara kumulatif, hingga Senin (26/1/2026), total sampah yang diangkat di lokasi ini mencapai 68.454 kilogram selama 29 hari operasi.

Sementara di Jawa Timur, tim Sungai Watch bersama relawan membersihkan 24.562 kilogram sampah plastik selama 11 hari operasi dengan melibatkan sekitar 170 relawan. Balai Taman Nasional Alas Purwo bahkan menetapkan status darurat dan memperpanjang kegiatan pembersihan hingga Maret 2026, dengan fokus utama di Pantai Pancur dan Pantai Trianggulasi.

Baca  200 Ribu CPNS Fresh Graduate Ditempatkan di IKN, Azwar: Seleksi Ketat Tanpa Ada 'ASDP'

Co-Founder Sungai Watch lainnya, Sam Bencheghib, menegaskan bahwa persoalan sampah laut bersifat lintas wilayah dan tidak mengenal batas administratif.

“Sampah yang tiba di pesisir Bali hari ini bisa berpindah ke Jawa Timur esok hari, atau bahkan sudah bergerak menuju pantai utara Australia,” kata Sam.

Menurut Sam, Sungai Watch saat ini beroperasi dalam status siaga tinggi dengan pemantauan kondisi secara real time untuk mencegah sampah plastik lolos ke laut lepas, yang proses pemulihannya dinilai sangat sulit.

Untuk penanganan jangka panjang, Sungai Watch mengandalkan strategi intersepsi di hulu melalui pemasangan penghalang sampah di sungai, pembersihan berbasis komunitas, serta program edukasi publik. Hingga kini, sekitar 400 penghalang sungai telah dipasang di Bali dan Jawa Timur, dengan total sampah yang berhasil diangkat mencapai lebih dari 4 juta kilogram sejak 2020.

Baca  KPU Tetapkan Debat Capres Cawapres Bakal Digelar 5 Kali

Sungai Watch juga mengajak masyarakat untuk terlibat sebagai relawan maupun memberikan dukungan donasi guna menopang operasional lapangan, mulai dari kebutuhan logistik, perlengkapan keselamatan, hingga perluasan sistem intersepsi di wilayah hulu.

“Setiap dukungan berarti melindungi sistem laut bersama yang saling terhubung di seluruh dunia,” tutup Sam. (tin/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button