KaltimSamarinda

Listrik Padam, Pengusaha Laundry Samarinda Waswas Mesin Jebol

Mesin Loundry di salah satu toko pencucian di Jalan Pramuka Samarinda (Foto: Editorialkaltim/Adryan)

Editorialkaltim.com – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Timur mulai dirasakan pelaku usaha. Salah satunya dialami pemilik usaha laundry di Jalan Pramuka, Samarinda, yang mengaku khawatir mesin-mesin usahanya rusak akibat listrik padam secara mendadak saat beroperasi.

Pemilik laundry, Lutfi, mengatakan gangguan listrik menjadi persoalan serius karena hampir seluruh aktivitas usahanya bergantung pada pasokan listrik yang stabil. Ketika listrik tiba-tiba padam, seluruh mesin yang sedang bekerja langsung berhenti sehingga berisiko mengalami gangguan.

“Kalau dampaknya dari mati listrik itu ya di laundry ini sudah pasti merusak mesin, karena kan mendadak mati,” ujar Lutfi saat ditemui, Kamis (2/7/2026).

Baca  Kepala DPMPD Kaltim Raih Gelar Doktor Ekonomi

Menurutnya, mesin cuci yang sedang beroperasi sangat rentan mengalami kerusakan ketika aliran listrik terputus tanpa peringatan. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha selalu waswas setiap kali terjadi pemadaman bergilir.

“Daya listrik tiba-tiba putus. Bahaya, soalnya ini lagi jalan semua mesin. Tiba-tiba mati,” ungkapnya.

Lutfi mengungkapkan, dalam beberapa waktu terakhir usaha miliknya sudah dua kali terdampak pemadaman listrik bergilir. Akibatnya, seluruh proses pencucian terpaksa dihentikan hingga pasokan listrik kembali normal.

Meski belum menerima komplain dari pelanggan akibat keterlambatan penyelesaian cucian, ia mengaku kerusakan mesin justru menjadi kekhawatiran terbesar. Pasalnya, biaya perbaikan maupun penggantian mesin tidaklah murah.

Baca  Raperda Ekraf Samarinda Rampung, DPRD Akui Anggaran Masih Seret

“Takutnya kan trouble di mesin. Biasanya kalau tiba-tiba mati kan bahaya,” katanya.

Selain mengganggu operasional usaha, Lutfi juga mempertanyakan alasan Kalimantan Timur masih mengalami pemadaman listrik bergilir. Menurutnya, kondisi tersebut terasa ironis mengingat daerah ini dikenal sebagai salah satu penghasil batu bara terbesar di Indonesia.

“Batubaranya memang dari sini semua kan untuk PLN. Tetapi kenapa masih begini? Dampaknya juga ke masyarakat,” ujarnya.

Ia menduga persoalan tersebut berkaitan dengan kebijakan di sektor pertambangan, terutama belum optimalnya persetujuan dokumen Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang dinilai ikut memengaruhi pasokan batu bara untuk pembangkit listrik.

Baca  Dispora Kaltim Tingkatkan Kualitas Atlet Lewat Kejuaraan Daerah Dengan Standar Bertaraf Nasional

“Kebijakan pemerintah saja lagi. RKAB belum ada yang disetujui. Disetujui pun enggak maksimal. Aneh ya,” tuturnya.

Lutfi berharap pemerintah segera mencari solusi agar pasokan listrik kembali stabil. Menurutnya, jika pemadaman bergilir terus berlanjut, bukan hanya aktivitas masyarakat yang terganggu, tetapi juga pelaku usaha kecil yang harus menanggung risiko kerusakan peralatan dan potensi kerugian usaha. (adr/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button