KaltimKukar

Kukar Kejar Hujan Lokal Lewat Rekayasa Cuaca

Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri saat ditemui awak media (Foto: Editorialkaltim/Ridho)

Editorialkaltim.com – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengusulkan rekayasa cuaca di sejumlah wilayah untuk mengantisipasi dampak musim kemarau berkepanjangan, terutama terhadap sektor pertanian.

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Timur untuk menentukan sejumlah titik yang membutuhkan rekayasa cuaca.

Menurut Aulia, sektor pertanian menjadi prioritas karena kekeringan berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman dan produksi pangan. Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan diperkirakan baru kembali turun secara signifikan pada Oktober 2026.

“Kita sudah berkoordinasi dengan BPBD provinsi untuk menentukan titik-titik untuk dilakukan rekayasa cuaca. Memang kemarin laporan dari teman-teman Dinas Pertanian, titik tekan kita sekarang rekayasa cuaca ini berada di titik-titik utamanya yang terkait dengan sektor pertanian,” kata Aulia.

Baca  Menteri Bahlil Perjuangkan Participating Interest Proyek Gas Italia untuk Kaltim

Ia menyebut Pemkab Kukar telah mengirimkan data lokasi yang membutuhkan rekayasa cuaca. Upaya itu diharapkan dapat memicu hujan lokal sehingga kebutuhan air untuk lahan pertanian terpenuhi.

“Karena yang dikhawatirkan adalah ketika tidak terjadi hujan dalam waktu dekat. Menurut perkiraan BMKG, hujan itu baru akan terjadi di bulan Oktober. Jadi, ini masih agak panjang kemaraunya sehingga diharapkan ada beberapa titik dilakukan rekayasa sehingga hujan lokal itu bisa terwujud,” ujarnya.

Baca  DPRD Kaltim Dorong Tambahan Anggaran untuk Bangun Gedung Bank Darah RSUD Kanujoso

Sembari menunggu pelaksanaan rekayasa cuaca, Pemkab Kukar melakukan mitigasi dengan mengalirkan air dari sumber terdekat menggunakan pompa dan selang.

Langkah itu dilakukan untuk memastikan jaringan irigasi tetap dapat mengairi persawahan dan menjaga tanaman padi dari ancaman kekeringan.

Aulia mencontohkan penanganan di Loa Duri Seberang. Sekitar 25 hektare sawah di wilayah tersebut telah dialiri air menggunakan pompa dengan sumber air dari Sungai Mahakam.

Sementara itu, di Kertabuana, pemerintah mengoperasikan tiga unit pompa untuk mengairi sekitar 209 hektare sawah yang terdampak kekeringan.

“Tanahnya itu sudah merekah-merekah. Tapi kemarin dengan teraliri air tersebut, kita yakin karena padinya rata-rata umurnya sudah dua bulan, butuh waktu sekitar satu bulan sampai satu setengah bulan lagi itu bisa panen,” jelasnya.

Baca  Remaja 15 Tahun Ditemukan Tewas Tenggelam di Sungai Mahakam

Aulia berharap berbagai langkah tersebut mampu menjaga produksi padi di Kukar selama musim kemarau.

“Harapan kita proses penanaman padinya ini tidak terganggu sehingga produksi padi di tempat kita juga tidak terganggu,” pungkasnya.

Sejumlah titik yang diusulkan untuk rekayasa cuaca meliputi Bukit Biru, Sumber Suko, Sebulu, dan Tenggarong Seberang. (dhn/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button