Karhutla di PPU Capai 592 Hektare

Editorialkaltim.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) tercatat mencapai 243 kejadian dengan total luas lahan terbakar sekitar 592 hektare hingga Kamis (8/10/2026). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU kini meningkatkan kewaspadaan menyusul prediksi fenomena El Niño pada 2027.
Kepala BPBD PPU Nurlaila mengungkapkan, Kecamatan Penajam menjadi wilayah dengan kasus karhutla terbanyak, yakni 123 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 359 hektare. Sementara itu, Kecamatan Babulu mencatat 58 kejadian, sedangkan Kecamatan Sepaku menempati urutan kedua dari sisi luas lahan terbakar.
“Karhutla per hari kemarin, kita sudah 243 kejadian dengan luasan 592 hektare di empat kecamatan. Itu yang seringkali kejadian pasti Penajam. 123 kali kejadian, 359 hektare. Kemudian disusul Babulu 58 kali kejadian. Tapi luasannya lebih luas Sepaku,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat (9/10/2026).
Meski jumlah kejadian cukup tinggi, Nurlaila menyebut kondisi karhutla di PPU mulai menunjukkan perkembangan positif. BPBD mencatat tidak ada titik panas atau hotspot yang terdeteksi selama tiga hari terakhir.
Sebelumnya, sejumlah titik panas sempat terpantau di wilayah Sotek dan Babulu. Namun, setelah dilakukan pemetaan lebih lanjut, beberapa titik ternyata masuk wilayah administratif Kabupaten Paser.
“Penyebaran titik hotspot, Sotek seperti itu, kemudian di Babulu. Tapi kadang-kadang hotspot kita sering berbatasan dengan Paser. Setelah di-overlay ke Google Maps ternyata masuk wilayah Paser seperti itu,” jelasnya.
Kendati titik panas sementara nihil, BPBD PPU tidak ingin lengah. Potensi cuaca kering akibat fenomena El Niño yang diprediksi terjadi pada 2027 menjadi perhatian dalam menyusun strategi pencegahan karhutla.
Nurlaila menjelaskan, informasi prakiraan cuaca yang diterima menunjukkan adanya potensi perubahan pola musim, mulai dari masa pancaroba, datangnya hujan, hingga periode kemarau berikutnya.
“Prediksinya bisa sampai 2027 El Niño ini. Minimal prediksi pertama di 2027 awal. Informasinya pancaroba, hujannya lebih cepat datang tapi durasi lambat. Lalu kemarau lagi, gitu informasinya di tahun 2027. Kita perlu kesiapsiagaan, mengambil secara data untuk beberapa kesiapsiagaan lanjutan,” tuturnya.
Menghadapi potensi tersebut, BPBD PPU terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna memastikan penanganan kebakaran dapat dilakukan secara cepat dan efektif.
Upaya penanggulangan melibatkan TNI-Polri, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Pertanian, Satpol PP, pemerintah kecamatan, hingga perusahaan yang beroperasi di wilayah PPU.
Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk mempercepat penanganan sekaligus meminimalkan dampak kebakaran, terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
“Bencana itu tanggung jawab kita bersama, tentu kita memerlukan kerja secara kolaboratif untuk mempercepat respons ketika kebakaran itu terjadi,” pungkasnya.(ta/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



