NasionalZona Kampus

Beras Sudah Swasembada, PP KAMMI: Jangan Biarkan Harga Tetap Mencekik

Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan PP KAMMI, Aulia Furqon, menyampaikan apresiasi atas capaian swasembada beras (Foto: PP KAMMI)

Editorialkaltim.com — PP KAMMI menilai capaian swasembada beras 2025 sebagai prestasi besar bangsa. Namun di balik keberhasilan tersebut, pemerintah kini dihadapkan pada tantangan lanjutan untuk memastikan keadilan harga pangan benar-benar dirasakan masyarakat.

Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan PP KAMMI, Aulia Furqon, menyampaikan apresiasi atas capaian swasembada beras yang diumumkan pemerintah dalam momentum Panen Raya Nasional. Menurutnya, keberhasilan ini menandai fase penting dalam perjalanan kedaulatan pangan Indonesia.

“Capaian swasembada pangan 2025 patut diapresiasi sebagai kerja besar negara. Ini adalah sejarah penting karena untuk ketiga kalinya Indonesia mampu mencapai swasembada beras, di tengah tekanan global, krisis iklim, dan ketidakpastian geopolitik,” ujar Furqon.

Furqon menilai jalan menuju swasembada kali ini tidak mudah. Ia menyebut dibutuhkan keberanian politik, konsistensi kebijakan, serta keberpihakan nyata kepada petani sebagai aktor utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Baca  Jokowi Resmikan Pembangunan PLTS di IKN Berkapasitas 50 Megawatt, Mampu Kurangi 104.000 ton Emisi Karbon Tiap Tahun

Dalam konteks tersebut, PP KAMMI secara khusus mengapresiasi langkah Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang dinilai berani mengambil risiko kebijakan, terutama dengan menaikkan harga gabah di tingkat petani serta memperluas subsidi pupuk.

“Kebijakan menaikkan harga gabah dan memperbaiki distribusi pupuk adalah langkah berani. Ini bukan kebijakan populer, tapi justru itulah yang selama ini absen. Banyak menteri pertanian sebelumnya ragu mengambil langkah ini, padahal tanpa keberpihakan pada petani, swasembada hanya akan menjadi jargon,” tegasnya.

Menurut PP KAMMI, keberhasilan produksi beras hingga puluhan juta ton serta penguatan cadangan beras pemerintah menjadi fondasi penting bagi kemandirian pangan nasional. Dengan fondasi tersebut, Furqon optimistis pemerintah memiliki peluang besar mendorong swasembada pada komoditas strategis lainnya.

Baca  Perpanjangan Pendaftaran KAMMI Green Leadership 2025

“Kami melihat peluang nyata untuk swasembada di sektor lain seperti gula, jagung, daging, dan susu. Indonesia adalah negeri yang kaya sumber daya, tanahnya subur, dan manusianya pekerja keras. Tinggal memastikan kebijakan benar-benar diarahkan untuk memaksimalkan potensi itu,” katanya.

Meski demikian, Furqon mengingatkan agar swasembada pangan tidak berhenti pada perayaan seremonial dan capaian statistik semata. Menurutnya, indikator keberhasilan sejati terletak pada dampak langsung yang dirasakan masyarakat luas.

“Swasembada harus diiringi dengan penurunan harga pangan, khususnya beras, di tingkat konsumen. Jika produksi melimpah dan stok besar, tetapi harga masih menekan rakyat, maka ada persoalan serius dalam tata niaga dan distribusi yang wajib segera dibenahi,” ujarnya.

Baca  Kementerian Ekraf Bakal Libatkan Chef Profesional Latih Juru Masak Makan Bergizi Gratis

Ia juga menekankan agar agenda swasembada ke depan tidak dijalankan dengan mengorbankan lingkungan dan keadilan agraria. Menurutnya, krisis ekologis justru dapat menjadi ancaman baru bagi ketahanan pangan jangka panjang.

“Pangan adalah soal hidup dan mati bangsa. Karena itu, negara harus memastikan swasembada berjalan beriringan dengan keadilan harga, keberlanjutan lingkungan, dan perlindungan petani. Di situlah makna kedaulatan pangan yang sesungguhnya,” tutup Furqon.(adr/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button