Kenali Sinyal Bahaya dan Tips Aman Berlari di Cuaca Ekstrem

Editorialkaltim.com – Berlari di tengah cuaca panas membutuhkan persiapan khusus. Selain memengaruhi kenyamanan, suhu tinggi dan kelembapan udara juga dapat menurunkan performa hingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi pelari.
Coach Agung Mulyawan mengungkapkan, berlari dalam kondisi panas dapat menyebabkan penurunan kecepatan sekitar 4–8,5 persen. Hal itu disampaikannya dalam sesi coaching clinic Bayan Run 2026 di DOM Balikpapan, Sabtu (10/10/2026).
“Berlari dalam suhu panas dapat menyebabkan penurunan kecepatan sekitar 4–8,5 persen,” kata Agung.
Dalam kesempatan tersebut, Agung menjelaskan pengaruh suhu panas dan kelembapan terhadap latihan, performa, hingga perlombaan lari. Ia mengingatkan pelari agar menyesuaikan intensitas latihan dengan kondisi cuaca dan kemampuan tubuh.
Menurutnya, terdapat tiga sinyal bahaya yang harus diwaspadai ketika berlari di tengah cuaca panas.
Pertama, kelelahan berlebihan yang ditandai dengan pusing, mual, muntah, hingga berhentinya produksi keringat. Gejala tersebut perlu mendapat perhatian serius karena dapat mengindikasikan gangguan kesehatan akibat paparan panas.
Kedua, kehilangan kemampuan koordinasi tubuh. Kondisi ini ditandai dengan gerakan yang tidak stabil saat berlari, kebingungan, linglung, hingga munculnya perilaku agresif dan tidak rasional.
Ketiga, perubahan tingkat kesadaran, termasuk pingsan. Perubahan warna kulit menjadi keabu-abuan juga menjadi tanda bahaya yang perlu diwaspadai.
Agung menegaskan, pelari yang mengalami gejala serius, terutama kebingungan atau kehilangan kesadaran, harus segera menghentikan aktivitas dan mendapatkan pertolongan medis.
“Saat kondisi itu ia harus menghentikan lari yang ia lakukan,” ungkapnya.
Untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan akibat cuaca panas, Agung membagikan sejumlah tips yang dapat diterapkan sebelum menjalani latihan maupun mengikuti perlombaan.
Tips pertama adalah meningkatkan kebugaran fisik dan melakukan aklimatisasi atau proses adaptasi tubuh terhadap lingkungan panas. Kebugaran perlu dibangun melalui latihan rutin agar tubuh lebih siap menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
“Proses penyesuaian diri untuk lingkungan baru memerlukan setidaknya lima hari latihan,” ujarnya.
Tips kedua, menyesuaikan intensitas latihan dan perlombaan dengan kondisi cuaca serta tingkat kebugaran. Jika suhu terlalu panas, pelari disarankan menurunkan target kecepatan atau pace sekitar 4–6 persen dari target awal.
Tips ketiga, memilih pakaian yang sesuai. Pelari dianjurkan mengenakan pakaian berbahan ringan, longgar, berwarna terang, dan mampu menyerap serta mengeringkan keringat dengan cepat.
Pakaian yang digunakan juga sebaiknya memberikan perlindungan dari paparan sinar matahari agar tubuh tetap nyaman selama berlari.
Dengan persiapan yang tepat dan kemampuan mengenali sinyal bahaya, pelari diharapkan dapat menjaga performa sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan saat beraktivitas di tengah cuaca panas.(adr/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



