BontangKaltim

Si ODO Diluncurkan, Sasar 108 Keluarga Cegah Stunting di Tanjung Laut

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni saat menyapa anak-anak yang terdeteksi stunting (Foto: Editorialkaltim/Lia)

Editorialkaltim.com – Kelurahan Tanjung Laut Indah meluncurkan inovasi Si ODO (One Day One Egg), Selasa (1/9/2026), sebagai langkah menekan angka stunting di wilayahnya.

Program tersebut menyasar 108 keluarga dengan anak stunting melalui pemberian satu telur rebus setiap hari selama 30 hari berturut-turut.

Lurah Tanjung Laut Indah Elis Subiantoro mengatakan, berdasarkan hasil operasi timbang serentak Juni 2026, terdapat 153 balita stunting dari total 787 balita di wilayahnya.

“Sebagai aksi nyata dalam penanganan stunting, kami meluncurkan inovasi Si ODO. Gerakan pemberian satu telur rebus setiap hari selama 30 hari berturut-turut,” ujarnya.

Menurut Elis, tahap awal program menyasar 108 keluarga yang telah menyatakan komitmen secara tertulis. Tantangan utama program ini adalah memastikan telur sampai dan dikonsumsi anak sasaran.

Karena itu, kader akan melakukan pemantauan setiap hari. Pelaksanaan program juga diperkuat dengan keterlibatan pegawai kelurahan yang ditugaskan sebagai koordinator lapangan bagi masing-masing kader.

Baca  Tinjau Tempat Hiburan Malam, Komisi III DPRD Samarinda Temukan Sejumlah Pelanggaran

“Setiap hari seluruh kader akan memantau secara langsung dan diperkuat dengan keterlibatan seluruh pegawai kelurahan sebagai koordinator lapangan,” katanya.

Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengapresiasi komitmen Kelurahan Tanjung Laut Indah dalam menekan angka stunting. Ia menilai keterlibatan kader menjadi salah satu kekuatan agar program tidak berhenti sebatas pemberian makanan tambahan.

“Yang paling saya sayangi juga komitmen kader hari ini. Ada gerakan Peduli Kader. Jadi kadernya peduli semuanya untuk menzerokan stunting di Kelurahan Tanjung Laut Indah,” kata Neni.

Neni menargetkan 153 kasus stunting di wilayah tersebut dapat ditekan hingga nol. Dengan 33 RT, ia menilai penanganan masih memungkinkan jika seluruh pihak ikut bergerak.

Baca  Gubernur Kaltim dan Wali Kota Balikpapan Kakak-Adik, Prabowo Sebut Nggak Apa-apa Asal Benar

“Kalau ada 153 dibagi 33 RT, paling sekitar lima anak per RT. Masa tidak bisa selesai? Selesaikan. Tahun ini harus zero,” tegasnya.

Neni menyebut penanganan stunting di Kota Bontang dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemantauan balita, pemberian makanan tambahan dan tablet tambah darah, penyuluhan, hingga pemantauan pasangan usia subur dan calon pengantin.

Menurutnya, penanganan stunting tidak bisa dimulai ketika anak sudah lahir, tetapi perlu dilakukan sejak masa remaja hingga menjelang pernikahan. Saat ini, prevalensi stunting di Bontang berada di angka 14,03 persen. Pemkot menargetkan angka tersebut turun menjadi satu digit atau di bawah 10 persen.

“Kalau kita bicara stunting, tidak hanya pada waktu anak lahir. Sebelumnya, remajanya, kemudian calon suami istri yang akan menikah juga harus diperhatikan,” jelasnya.

Baca  Final Duta Literasi Anggana 2025 Tampilkan Generasi Kritis dan Peduli Lingkungan

Neni juga mengingatkan persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan asupan makanan. Faktor sanitasi, kebersihan lingkungan, anemia pada ibu, hingga berat badan lahir rendah turut memengaruhi tumbuh kembang anak.

Karena itu, ia mendorong pegawai kelurahan tidak sekadar menjadi koordinator, tetapi juga berperan sebagai pendamping bahkan orang tua asuh bagi anak sasaran. Menurutnya, pendampingan langsung dapat membantu menemukan faktor penyebab stunting di setiap keluarga.

“Kalau perlu, semua pegawai kelurahan menjadi orang tua asuh. Datangi anak-anak itu bersama RT. Lihat permasalahannya, apakah lingkungannya tidak bersih, sanitasinya buruk atau ada persoalan lainnya,” pungkasnya. (lia/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button