
Editorialkaltim.com – DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) menyambut positif langkah Pemprov Kaltim mengambil alih pengelolaan Mal Lembuswana. Langkah ini dinilai membuka peluang optimalisasi aset daerah sekaligus meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD).
Anggota Komisi II DPRD Kaltim Firnadi Ikhsan mengatakan, pengelolaan Mal Lembuswana kini memasuki masa transisi. Pemprov Kaltim menunjuk PT Kaltim Melati Bhakti Satya (KTMBS), salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), untuk menangani pengelolaan sementara.
“Pertama, saya sebagai dewan tentu menyambut baik langkah maju dan lebih pasti lagi dari pengelolaan aset-aset kita. Memang aset ini salah satu hal yang diharapkan bermanfaat secara ekonomis, terutama menghasilkan PAD,” ujar Firnadi, Senin (10/8/2026).
Menurut Firnadi, pengambilalihan tersebut menjadi momentum untuk memastikan aset milik daerah dapat dikelola lebih produktif. Terlebih, Mal Lembuswana tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menyimpan sejarah panjang perkembangan Kota Samarinda.
Mal yang telah berdiri sekitar tiga dekade itu disebut menjadi salah satu penanda tumbuhnya aktivitas ekonomi dan pusat perbelanjaan di Samarinda.
“Mal ini bukan sekadar aset, tapi nilai historisnya luar biasa. Sudah 30 tahun. Ini menjadi salah satu tonggak mulainya perekonomian kita di Samarinda,” katanya.
Firnadi juga menilai penunjukan KTMBS sebagai pengelola selama masa transisi merupakan langkah yang tepat. Ia meyakini Pemprov Kaltim telah mempertimbangkan kemampuan perusahaan daerah tersebut sebelum memberikan tanggung jawab pengelolaan.
“Pemerintah daerah sudah menghitung, saya kira, siapa institusi hari ini yang dipandang kompeten untuk menangani itu. Kita mendapati gubernur telah memutuskannya, MBS,” jelasnya.
Ia berharap KTMBS mampu menjalankan tugas secara profesional, baik dalam mengelola Mal Lembuswana maupun aset daerah lainnya yang dipercayakan kepada perusahaan tersebut.
Firnadi menyebut audit terhadap aset Mal Lembuswana telah dilakukan. Tahapan berikutnya adalah mencari investor baru melalui mekanisme seleksi atau beauty contest.
Ia menekankan proses pemilihan investor harus berlangsung transparan dengan indikator penilaian yang jelas. Hal itu diperlukan agar investor terpilih benar-benar memiliki kemampuan mengembangkan Mal Lembuswana sekaligus memberikan manfaat optimal bagi daerah.
“Beauty contest itu indikatornya pemerintah provinsi memiliki. Siapa pun nanti pemenangnya diharapkan mampu mengoptimalkan posisi aset kita itu. Pasti mereka punya hitung-hitungan ekonomisnya,” ungkapnya.
Firnadi berharap pola pengelolaan baru tersebut membuat Mal Lembuswana semakin produktif, sekaligus menjaga aset yang memiliki nilai historis bagi masyarakat Samarinda. (adr/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



