Korban Bullying di PPU Dioperasi Gratis, Bupati Harap Kasus Berakhir Damai

Editorialkaltim.com – Korban perundungan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) yang mengalami putus sebagian daun telinga dipastikan akan menjalani operasi plastik secara gratis. Seluruh biaya tindakan medis ditanggung Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sebagai bentuk dukungan terhadap pemulihan korban.
Bupati PPU Mudyat Noor mengatakan operasi akan dilakukan di Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo, Balikpapan. Rumah sakit tersebut dipilih karena memiliki dokter spesialis yang dinilai mampu menangani kondisi korban.
“Pak Gubernur memberikan bantuan operasi plastik secara gratis. Operasi akan dilakukan di Rumah Sakit Kanujoso karena dokternya sudah memadai. Ini untuk membantu pemulihan korban agar bisa melanjutkan pendidikan dan mengejar cita-citanya,” kata Mudyat.
Ia mengungkapkan biaya operasi diperkirakan mencapai Rp110 juta hingga Rp120 juta. Namun, seluruh biaya kini ditanggung pemerintah sehingga keluarga korban tidak lagi dibebani ongkos pengobatan.
Tak hanya memastikan pemulihan korban, Pemkab PPU bersama Pemprov Kaltim juga menuntaskan persoalan pendidikan salah seorang siswa yang sebelumnya gagal diterima di SMA negeri. Melalui mediasi yang dipimpin Gubernur Kalimantan Timur, siswa tersebut akhirnya dipastikan dapat melanjutkan pendidikannya.
Menurut Mudyat, pertemuan itu juga menghasilkan kesepakatan damai antara kedua belah pihak yang terlibat dalam kasus tersebut.
“Alhamdulillah kedua belah pihak sudah berdamai. Yang satu mendapat bantuan operasi plastik, yang satu lagi bisa melanjutkan sekolah. Harapan kami persoalan ini bisa selesai,” ujarnya.
Meski begitu, Mudyat berharap proses hukum tetap mengedepankan pendekatan restorative justice. Menurutnya, penyelesaian secara kekeluargaan layak diprioritaskan karena kedua pihak telah sepakat berdamai.
Di sisi lain, ia meminta seluruh satuan pendidikan di PPU meningkatkan pengawasan agar kasus serupa tidak kembali terjadi. Guru, kepala sekolah, hingga tenaga pendidik diminta lebih peka mengenali tanda-tanda awal perundungan.
“Kami meminta para guru, kepala sekolah, dan tenaga pendidik memberikan edukasi kepada anak-anak. Kalau sudah ada bibit-bibit perundungan harus segera ditangani agar tidak berkembang menjadi kasus yang lebih besar,” tegasnya.
Kasus ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Selain memastikan korban mendapatkan penanganan medis, upaya pencegahan melalui pengawasan di sekolah, edukasi, serta pendampingan terhadap siswa dinilai menjadi kunci agar praktik perundungan tidak kembali terulang. (tin/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



