KaltimOpiniSamarinda

Meiliana: Dari Honorer Hingga Puncak Birokrasi Kaltim, Kisah Hidup yang Menggetarkan Hati

Oleh: Riyawan, S.Hut – Pemerhati Sosial & Budaya

Editorialkaltim.com – Tak semua orang memulai dari garis yang sama. Ada yang lahir dengan kemudahan, ada pula yang harus berjuang dari nol. Namun, kisah Hj. Meiliana membuktikan satu hal sederhana, yakni titik awal tidak menentukan garis akhir. Perjalanan hidupnya adalah potret nyata tentang kerja keras, ketulusan, dan keyakinan yang tak pernah goyah.

Perempuan kelahiran Samarinda, 9 Mei 1959 ini mengawali karier sebagai tenaga honorer proyek. Siapa sangka, langkah kecil itu membawanya menjadi Penjabat Sekretaris Provinsi Kalimantan Timur, jabatan tertinggi dalam struktur birokrasi daerah. Hingga akhirnya, pada 7 April 2026, ia berpulang, meninggalkan jejak inspirasi yang tak akan pudar.

Dari Honorer ke Puncak Karier: Perjalanan Sunyi yang Penuh Makna

Tahun 1985 menjadi titik awal perjalanan Meiliana. Saat itu, Samarinda belum seramai sekarang. Di sebuah kantor sederhana Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Timur, ia bekerja sebagai honorer proyek. Gaji kecil, status belum pasti, dan masa depan yang belum jelas, semua ia jalani tanpa keluhan.

Alih-alih mengeluh, Meiliana memilih fokus bekerja. Ia memahami bahwa setiap proses, sekecil apa pun, adalah bagian dari perjalanan besar. Setahun berselang, dedikasinya membuahkan hasil. Ia resmi diangkat menjadi CPNS.

Sejak saat itu, kariernya perlahan menanjak. Ia dikenal sebagai sosok yang disiplin dan bertanggung jawab. Tidak ada pekerjaan yang dibiarkan menumpuk. Semua diselesaikan tepat waktu, bahkan sering kali lebih cepat dari target.

Dalam berbagai kesempatan, ia pernah mengatakan bahwa dirinya tidak pernah terlalu ambisius mengejar jabatan. “Saya mengalir saja,” ujarnya. Namun, di balik kata “mengalir”, ada kerja keras luar biasa yang tak banyak orang lihat.

Dari posisi staf, ia dipercaya menjadi Kepala Bagian Protokol, lalu menjabat sebagai Kepala Pusat Kajian di Lembaga Administrasi Negara (LAN) Samarinda. Setiap posisi ia jalani dengan penuh tanggung jawab, tanpa pernah merasa lebih tinggi dari yang lain. Baginya, jabatan bukanlah simbol kekuasaan, melainkan amanah yang harus dijaga.

Baca  Tongkang Tabrak Pilar Jembatan Mahulu Samarinda, Polisi Selidiki Penyebabnya

Meiliana Jadi Perempuan Pertama di Kursi Strategis Kaltim

Maret 2018 menjadi momen bersejarah, bukan hanya bagi Meiliana, tetapi juga bagi Kalimantan Timur. Ia dilantik sebagai Penjabat Sekretaris Provinsi (Pj Sekprov), menjadikannya perempuan pertama yang menduduki posisi tersebut sejak provinsi ini berdiri.

Yang membuat momen itu semakin spesial, pelantikan dilakukan tepat pada 8 Maret, Hari Perempuan Internasional. Sebuah kebetulan yang terasa seperti takdir.

Ia sendiri mengaku tak pernah menyangka akan berada di titik itu. Namun, ketika amanah datang, ia menerimanya dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab.

Sebelumnya, ia juga pernah dipercaya sebagai Penjabat Wali Kota Samarinda pada periode 2015–2016. Meski hanya sementara, ia mampu menjalankan tugas dengan baik dan menjaga stabilitas pemerintahan.

Tak berhenti di situ, pada masa transisi kepemimpinan daerah tahun 2018, ia juga sempat menjabat sebagai Pelaksana Harian Gubernur Kalimantan Timur selama dua minggu. Tiga posisi strategis dalam kurun waktu yang relatif singkat, sebuah capaian yang tidak banyak dimiliki birokrat.

Sebagai Pj Sekprov, Meiliana memegang peran penting dalam mengawal berbagai proyek strategis daerah. Mulai dari pembangunan Bandara APT Pranoto, jalan tol Balikpapan–Samarinda, hingga Jembatan Kembar, semua menjadi bagian dari tanggung jawabnya.

Ia juga mendorong tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan, dengan target meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Namun, yang paling menonjol dari gaya kepemimpinannya adalah semangat kolaborasi.

Ia percaya bahwa pekerjaan besar tidak bisa diselesaikan sendiri. Karena itu, ia selalu membangun kerja tim yang solid, membagi tugas dengan jelas, dan memberi kepercayaan kepada bawahannya.

Baca  Anggota DPRD Kaltim Sebut Penegakan Hukum Tambang Ilegal di KHDTK Unmul Berlanjut

Di Tengah Kesibukan Negara, Ia Tak Pernah Abai pada Keluarga dan Tuhan

Di balik kesibukan sebagai pejabat tinggi, Meiliana tetap menjalankan perannya sebagai istri dan ibu dengan sepenuh hati. Ia adalah sosok yang percaya bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari jabatan, tetapi juga dari keharmonisan keluarga.

Sebagai istri dari Gusti Suhadsya, ia selalu menempatkan keluarga sebagai prioritas. Setiap pagi, setelah salat subuh, ia menyempatkan diri memasak untuk keluarganya. Bukan karena tidak mampu membeli makanan, tetapi karena ia ingin menjalankan tanggung jawab sebagai seorang ibu.

Ia juga dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Salat lima waktu tidak pernah ditinggalkan, bahkan di tengah rapat penting sekalipun. Jika azan berkumandang, ia tidak ragu menghentikan aktivitas. Baginya, pekerjaan bisa menunggu, tetapi ibadah tidak.

Prinsip hidupnya sederhana, yakni niat baik, kejujuran, dan kedisiplinan akan selalu membawa hasil yang baik. Ia percaya bahwa keberhasilan tidak lepas dari doa, restu keluarga, dan ridha Allah.

Dua putrinya yang kini berprofesi sebagai dokter menjadi bukti nyata bahwa ia berhasil membangun keluarga yang kuat sekaligus berprestasi.

Saat Ia Berpulang, Kaltim Berduka dan Banyak Hati Tersentuh

Pada Selasa, 7 April 2026 pukul 18.00 WITA, Meiliana menghembuskan napas terakhirnya. Kabar duka ini menyebar cepat dan meninggalkan rasa kehilangan yang mendalam, terutama bagi masyarakat Kalimantan Timur.

Banyak yang mengenangnya sebagai sosok yang hangat, rendah hati, dan tidak pernah membeda-bedakan orang. Ia mudah tersenyum, mudah menyapa, dan selalu hadir dengan ketulusan. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang pejabat, tetapi juga kehilangan seorang teladan.

Namun, di balik duka, ada pelajaran besar yang bisa kita ambil. Kematian adalah pengingat bahwa jabatan, harta, dan dunia hanyalah titipan. Yang tersisa hanyalah amal, kebaikan, dan kenangan yang kita tinggalkan.

Baca  SE Mendagri Terbit, Wagub Kaltim Minta Kepala Daerah Tunda Ke Luar Negeri

Meiliana telah menunjukkan bagaimana hidup seharusnya dijalani: dengan kerja keras tanpa kehilangan nilai, dengan kesuksesan tanpa kesombongan, dan dengan kekuasaan tanpa melupakan kemanusiaan. Ia membuktikan bahwa menjadi besar tidak harus menginjak yang lain, dan menjadi sukses tidak harus melupakan akar.

Dari Meiliana, Kita Belajar Arti Ikhlas dan Perjuangan Sejati

Kisah Meiliana seperti cermin bagi kita semua. Ia mengajarkan bahwa tidak ada alasan untuk menyerah hanya karena memulai dari bawah. Tidak ada alasan untuk mengabaikan keluarga demi ambisi. Dan tidak ada alasan untuk melupakan Tuhan dalam kesibukan dunia.

Di era sekarang, ketika banyak orang terjebak dalam ambisi instan dan pencitraan, kisah seperti ini terasa semakin langka dan justru karena itu semakin berharga. Ia bukan hanya inspirasi bagi ASN atau perempuan, tetapi bagi siapa saja yang sedang berjuang dalam hidup.

Kepergian Meiliana bukanlah akhir dari segalanya. Ia justru menjadi awal dari cerita-cerita baru yang terinspirasi darinya. Dari para honorer yang tidak lagi minder, dari para perempuan yang berani bermimpi besar, hingga dari generasi muda yang belajar bahwa kesuksesan butuh proses.

Selamat jalan, Bunda Mei. Terima kasih atas teladan yang telah engkau tinggalkan. Semoga setiap langkahmu selama hidup menjadi cahaya di alam sana, dan semoga kita semua mampu mengambil pelajaran dari perjalananmu.

“Saya percaya pada Allah, bahwa niat yang baik dan tulus, serta kejujuran, pasti baik hasilnya.” — Hj. Meiliana.(*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button