Opini

Keadilan yang Teruji: Palestina, Venezuela, dan Wajah Ganda Tatanan Dunia

Oleh: Masykur Sarmian – Ketua Fokal IMM Kalimantan Timur

Editorialkaltim.com – Dunia yang adil bukanlah dunia yang netral terhadap penderitaan. Ia adalah dunia yang berpihak bukan pada kekuatan, melainkan pada kebenaran. Dan justru di sinilah keadilan global hari ini diuji paling telanjang: di tanah Palestina yang berdarah dan di Venezuela yang dicekik tanpa peluru.

Keduanya berada di belahan bumi yang berbeda. Sejarah, budaya, dan ideologi mereka tidak sama. Namun penderitaan mereka bertemu pada satu simpul yang sama: kesewenang-wenangan kekuasaan global yang dibungkus moralitas palsu.

Palestina: Ketika Penjajahan Dibiarkan atas Nama Keamanan

Palestina adalah luka terbuka peradaban modern. Ia bukan konflik biasa, melainkan penjajahan yang disaksikan dunia secara langsung hari demi hari, generasi demi generasi.

Tanah dirampas, rumah dihancurkan, anak-anak dibunuh, bantuan kemanusiaan dihalangi, dan sebuah bangsa dipaksa hidup di bawah bayang-bayang senjata. Semua itu terjadi bukan dalam kegelapan, melainkan di bawah sorot kamera global.

Ironisnya, ketika Palestina menjerit, dunia yang mengaku menjunjung hak asasi manusia justru kerap memilih bisu. Atau lebih buruk, membenarkan kekerasan dengan dalih hak membela diri sebuah dalih yang hanya berlaku bagi pihak yang kuat.

Inilah wajah keadilan yang timpang: penjajahan dipoles sebagai keamanan, pembantaian disebut operasi militer, dan perlawanan rakyat yang terjajah dilabeli terorisme.

Baca  Masa Depan Keamanan Pangan Siap Saji

Padahal, sejak awal sejarah modern, satu prinsip telah disepakati: penjajahan adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Bahkan Pembukaan UUD 1945 dengan tegas menyatakan, “Kemerdekaan ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.”

Namun prinsip itu runtuh ketika berhadapan dengan kepentingan geopolitik negara adidaya.

Venezuela: Penindasan Tanpa Bom, Penjajahan Tanpa Pasukan

Jika Palestina dihancurkan dengan senjata, Venezuela dilemahkan dengan sanksi.

Atas nama demokrasi dan kebebasan, Venezuela dijatuhi sanksi ekonomi sepihak. Sistem keuangan diputus, aset dibekukan, perdagangan dibatasi. Rakyat biasa yang menanggung akibatnya: obat-obatan menjadi langka, pangan mahal, dan ekonomi runtuh.

Ini adalah bentuk penjajahan gaya baru penindasan tanpa tank, tetapi sama mematikannya.

Presiden Venezuela boleh dikritik, dan pemerintahannya boleh dipersoalkan. Namun, siapa yang memberi hak kepada negara lain untuk menghukum seluruh bangsa tanpa mandat hukum internasional yang adil?

Di sinilah standar ganda itu kembali muncul. Ketika negara adidaya tidak menyukai arah politik sebuah negara, demokrasi berubah menjadi alasan intervensi. Hak asasi manusia menjadi alat tekanan. Hukum internasional menjadi lentur—keras ke bawah, lunak ke atas.

Venezuela bukan semata-mata soal Maduro. Ia adalah soal kedaulatan yang diinjak atas nama moralitas selektif.

Baca  Pemuda Muhammadiyah dan Peradaban Profetik

Arogansi Global dan Matinya Nurani Dunia

Palestina dan Venezuela memperlihatkan pola yang sama: kekuasaan global merasa berhak menentukan siapa yang boleh hidup layak dan siapa yang boleh dikorbankan.

Inilah arogansi tertinggi, ketika kekuatan merasa dirinya identik dengan kebenaran.

Negara-negara adidaya mengklaim diri sebagai polisi dunia, hakim dunia, sekaligus algojo dunia. Mereka mengkritik pelanggaran hak asasi manusia, tetapi menutup mata ketika pelanggaran itu dilakukan oleh sekutunya. Mereka berbicara tentang hukum internasional, tetapi melanggarnya ketika hukum tersebut tidak menguntungkan.

Dunia pun terjebak dalam ketakutan dan kepura-puraan. Banyak negara tahu ini tidak adil, tetapi memilih diam, sebab diam dianggap lebih aman daripada bersikap jujur.

Namun sejarah mengajarkan satu hal pahit: ketika ketidakadilan dibiarkan di satu tempat, ia akan menjalar ke tempat lain.

Islam, Nurani Kemanusiaan, dan Sikap yang Tegas

Dalam perspektif Islam, keadilan bukan milik kelompok, ras, atau negara tertentu. Keadilan adalah perintah ilahi. Bahkan kepada pihak yang dibenci sekalipun, keadilan tetap wajib ditegakkan.

Al-Qur’an mengingatkan agar kebencian tidak mendorong manusia berlaku zalim. Maka membela Palestina bukan semata soal sentimen agama, melainkan kewajiban kemanusiaan. Demikian pula menolak sanksi yang mencekik Venezuela bukan soal ideologi, melainkan soal keadilan.

Baca  Wujudkan Ketahanan Pangan Penopang IKN, Close Loop Jadi Solusi Sistem Kemitraan Peternakan Kambing dan Domba di Kaltim

Islam mengajarkan bahwa kezaliman, dari siapa pun datangnya, tetaplah kezaliman. Dan diam terhadapnya adalah dosa sosial.

Penutup: Dunia yang Adil Harus Berani Bersikap

Dunia yang adil bukanlah dunia yang seimbang dalam kata-kata, melainkan dunia yang tegas dalam sikap. Dunia yang tidak takut mengatakan bahwa penjajahan Israel atas Palestina adalah kejahatan. Dunia yang berani menyebut sanksi sepihak terhadap Venezuela sebagai kesewenang-wenangan.

Keadilan tidak boleh tunduk pada veto.

Kemanusiaan tidak boleh kalah oleh kepentingan.

Dan hukum internasional tidak boleh menjadi alat kekuasaan.

Jika dunia terus memilih diam, maka yang runtuh bukan hanya Palestina dan Venezuela, melainkan makna keadilan itu sendiri.

Sebab pada akhirnya, peradaban tidak diadili dari seberapa kuat militernya, melainkan dari keberaniannya membela mereka yang tertindas bahkan ketika pelaku penindasan adalah negara terkuat di dunia.

Dan di hadapan sejarah, tidak ada alasan yang dapat membenarkan kezaliman. Tidak hari ini. Tidak pernah.

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi editorialkaltim.com

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button