Perempuan Akar Kuning Samarinda Rayakan International Women’s Day 2025, Bahas Jamu hingga Gastrokolonialisme

Editorialkaltim.com – Komunitas Akar Kuning di Samarinda menggelar peringatan International Women’s Day 2025 dengan mengangkat tema perlawanan perempuan dalam menjaga pengetahuan leluhur dan ekologi. Bertempat di Sapa Nusa Minggu (9/3/2025), acara bertajuk Meramu Perlawanan Perempuan ini menghadirkan demo pembuatan jamu serta diskusi tentang pangan lokal dan gastrokolonialisme. Melalui acara ini, Akar Kuning ingin menunjukkan bahwa tradisi perempuan dalam meramu jamu dan mengolah pangan lokal bukan sekadar urusan domestik, tetapi juga bagian dari perjuangan mempertahankan identitas dan keberlanjutan lingkungan.
Sejak pagi, puluhan peserta mengikuti sesi praktik pembuatan jamu dan ramuan tradisional. Selain mempelajari cara meracik bahan alami, mereka juga diajak memahami bahwa jamu bukan sekadar minuman kesehatan, tetapi juga simbol perlawanan perempuan dalam mempertahankan pengetahuan yang sering kali dianggap tidak bernilai dalam sistem modern.
Prameta Dewiensuari atau yang disapa Wiwin, penggiat Akar Kuning, menjelaskan bahwa sejarah mencatat bagaimana perempuan yang menguasai pengobatan herbal sering distigmatisasi dan dikriminalisasi.
“Banyak perempuan tabib atau dukun yang dulunya dianggap sebagai penyihir dan dihukum mati karena pengetahuannya. Hari ini, kita melihat bentuk lain dari penghapusan itu: jamu dan pengobatan tradisional dikalahkan oleh industri farmasi besar, sementara perempuan yang masih melestarikan tradisi ini dianggap kuno atau tidak ilmiah,” ujar Wiwin.
Dalam diskusi yang berlangsung, para peserta membahas bagaimana sistem patriarki dan kolonialisme telah melemahkan warisan pengetahuan perempuan.
Mereka juga menyoroti pentingnya dekolonialisasi tabib dan perdukunan, mengingat praktik medis tradisional sering dipandang negatif meskipun memiliki akar kuat dalam sejarah kesehatan komunitas. Wiwin menekankan bahwa perempuan memiliki keterikatan erat dengan alam, terutama dalam menjaga keseimbangan ekologi melalui pengobatan alami.
Selain membahas jamu dan pengobatan tradisional, diskusi semakin menarik dengan hadirnya Yudhis dan Nella Putri yang mengangkat konsep gastrokolonialisme.
Mereka menjelaskan bagaimana kolonialisme membentuk pola konsumsi pangan masyarakat dan memperlemah ketahanan pangan lokal dengan mendorong ketergantungan terhadap produk impor dan makanan instan.
“Kita sering tidak sadar kalau pola makan kita sudah dikendalikan oleh sistem yang bukan berasal dari kita sendiri. Banyak bahan makanan lokal yang tergeser oleh produk instan atau impor, padahal kita punya sumber daya yang lebih sehat dan berkelanjutan. Perempuan, yang selama ini punya peran utama dalam mengolah dan menjaga pangan lokal, justru kehilangan kendali atas sumber dayanya sendiri,” kata Nella.
Acara ini ditutup dengan sesi refleksi bersama yang menyoroti dua harapan utama. Pertama, kebijakan di Indonesia diharapkan lebih berpihak pada keberlanjutan lingkungan serta mengakui peran perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam dan pangan. Kedua, perempuan di seluruh dunia didorong untuk terus menjaga tradisi, ekologi, dan membangun kemandirian pangan sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem yang menekan mereka.
“Perempuan bukan sekadar penjaga dapur atau rumah, tetapi juga penjaga ilmu, tradisi, dan ekologi yang telah diwariskan turun-temurun. Perlawanan perempuan bukan hanya di jalanan, tetapi juga dalam dapur, kebun, dan setiap racikan jamu yang mereka buat sendiri,” tutup Wiwin.
Dengan acara ini, Akar Kuning menegaskan bahwa pengetahuan perempuan tetap hidup dan terus berkembang di tengah tantangan zaman. Mereka berharap, warisan leluhur yang selama ini dijaga perempuan tidak hanya diakui, tetapi juga dihargai dan dilindungi sebagai bagian dari identitas dan ketahanan komunitas.(nita/ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.