KaltimSamarindaZona Kampus

Riset Profesor Unmul Lolos Pendanaan Negara, Terung Dayak Dikembangkan Jadi Produk Antibakteri

Ketua tim peneliti Unmul, Esti Handayani Hardi (Foto: Dok Pribadi)

Editorialkaltim.com – Riset berbasis kekayaan hayati lokal Kalimantan Timur (Kaltim) yang dikembangkan profesor Universitas Mulawarman (Unmul) berhasil menembus pendanaan nasional. Penelitian yang memanfaatkan terung asam atau terung Dayak (Solanum ferox) ini dinyatakan lolos pendanaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan.

Ketua tim peneliti Unmul, Esti Handayani Hardi, menjelaskan bahwa terung asam yang selama ini dikenal sebagai bumbu penambah rasa asam dalam masakan Dayak ternyata mengandung solasodin dengan kualitas terbaik. Senyawa alkaloid tersebut diketahui memiliki fungsi sebagai antikanker, agen anti-inflamasi, serta berpotensi sebagai kontrasepsi alami.

“Tau gak kalau terung asam atau terung Dayak yang menjadi bumbu penambah asam pada masakan Dayak mengandung solasodin terbaik di dunia,” ujarnya Selasa (10/2/2026).

Baca  Neni Moerniaeni dan Agus Haris Mulai Kepemimpinan, Siapkan Bontang Jadi Kota Industri Maju

Riset sebelumnya menunjukkan solasodin asal Bumi Etam memiliki kemampuan kuat dalam menghambat pertumbuhan bakteri patogen, seperti Pseudomonas, Vibrio parahaemoliticus, Vibrio harveyi, dan Vibrio alginolyticus. Temuan ini dinilai sangat relevan dengan tantangan sektor akuakultur nasional yang selama ini masih bergantung pada antibiotik sintetis.

Melalui pendanaan Kemendiktisaintek tahun ini, Unmul mengembangkan inovasi bernama Fitoimun, yakni produk antibakterial alami untuk udang sekaligus molting stimulator bagi kepiting. Produk ini diproyeksikan mampu menggantikan metode autolimb atau penghilangan kaki jalan yang selama ini digunakan dalam budidaya kepiting soka.

Produk Fitoimun (Foto: Dok Pribadi)

Secara lebih luas, riset ini menjawab persoalan serius di sektor budidaya perikanan terkait infeksi bakteri, resistensi antibiotik, serta residu yang berdampak pada lingkungan dan keamanan pangan. Fitoimun dikembangkan sebagai antibakteri dan imunostimulan berbasis sumber daya lokal yang aman, efektif, dan ramah lingkungan, sejalan dengan Rencana Induk Riset Nasional serta agenda riset prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Baca  Orang Tua Siswa Apresiasi Pelaksanaan Program MBG di SDN 004 Samarinda Utara

Hasil riset sejak 2016 hingga 2024 menunjukkan Fitoimun efektif meningkatkan survival rate, Feed Conversion Ratio (FCR), kualitas daging udang vaname, mempercepat molting kepiting bakau, serta meningkatkan ketahanan ikan terhadap infeksi bakteri. Produk ini diformulasikan dalam bentuk cair 100 mL yang mengandung ekstrak terung asam dan temu kunci, dengan senyawa aktif solasodine teridentifikasi melalui analisis HPLC.

Selain layak secara teknis, pra-studi kelayakan juga menunjukkan potensi pasar yang jelas, kesiapan regulasi yang memungkinkan, serta prospek finansial yang menjanjikan. Fitoimun dinilai mampu mendukung budidaya perikanan berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada antibiotik sintetis, serta selaras dengan agenda ekonomi biru nasional dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan SDGs 14.

Baca  Tinjau Pembangunan Bandara VVIP IKN, Akmal Malik: Persiapan Sudah Bagus

“Bangga dengan produk inovasi lokal Kaltim dan Indonesia. Semoga riset ini menjadi pondasi pengembangan industri bahan alam di Kalimantan Timur,” tutup Esti.

Tim Riset Universitas Mulawarman:

  • Ketua: Prof. Dr. Esti Handayani Hardi, S.Pi., M.Si
  • Anggota 1: Prof. Dr. drh Gina Saptiani, M.Si
  • Anggota 2: ​Dr. Islamudin Ahmad

(ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button