Internasional

Presiden Venezuela Ditangkap, Trump Buka Peluang Migas AS Masuk

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (Foto: Reuters)

Editorialkaltim.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan membuka peluang bagi perusahaan minyak besar asal negaranya untuk beroperasi di Venezuela. Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu (3/1/2025), menyusul agresi militer AS yang berujung pada penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, pemimpin negara dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia.

“Kita akan mengizinkan perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara itu,” kata Trump dalam konferensi pers di Florida, seperti diberitakan AFP.

Meski demikian, Trump menegaskan kebijakan keras Washington terhadap sektor energi Venezuela tidak berubah. Ia menyatakan, “embargo terhadap semua minyak Venezuela tetap berlaku sepenuhnya.” Sikap ini menandakan AS tetap mempertahankan tekanan ekonomi terhadap Caracas.

Baca  Khabib Desak Donald Trump Hentikan Perang Israel-Palestina di Sela Pertandingan UFC 302

AS diketahui telah memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Venezuela sejak 2017. Dua tahun berselang, sanksi tersebut diperluas dengan pembatasan ketat pada sektor minyak, yang menjadi tulang punggung ekonomi negara Amerika Latin itu.

Berdasarkan data Administrasi Informasi Energi AS, Venezuela merupakan salah satu negara pendiri OPEC dan memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai 303 miliar barel atau sekitar 17 persen dari total cadangan global. Jumlah tersebut melampaui cadangan minyak Arab Saudi, Iran, dan Irak.

Namun besarnya cadangan tidak sejalan dengan tingkat produksi. Analis minyak Kpler, Matt Smith, mencatat produksi minyak Venezuela pernah mencapai puncak 3,5 juta barel per hari pada akhir 1990-an. Sejak itu, produksinya terus merosot hingga kini hanya sekitar 800.000 barel per hari. Sebagai perbandingan, produksi minyak AS pada 26 Desember lalu mencapai sekitar 13,8 juta barel per hari.

Baca  WHO Ungkap Krisis Malnutrisi di Gaza Mematikan, Anak-anak Jadi Korban Terbesar

Kondisi tersebut membuat sebagian besar minyak mentah Venezuela diperdagangkan di pasar gelap dengan potongan harga besar. Trump pun menuding pendapatan minyak negara itu disalahgunakan. Ia mengklaim Venezuela menggunakan uang minyak untuk membiayai “terorisme narkoba, perdagangan manusia, pembunuhan, dan penculikan.”

Pada awal masa jabatan keduanya pada 2025, Trump menghentikan hampir seluruh izin yang memungkinkan perusahaan minyak dan gas multinasional beroperasi di Venezuela meski ada sanksi. Seluruh aktivitas dihentikan kecuali satu perusahaan asal AS, Chevron, yang tetap diberi izin terbatas.

Chevron mengoperasikan empat ladang minyak di Venezuela melalui kerja sama dengan perusahaan minyak negara PDVSA beserta afiliasinya. Selain itu, AS juga memberlakukan blokade total terhadap kapal tanker yang dikenai sanksi yang keluar dan masuk wilayah Venezuela.

Baca  Joe Biden Sebut Akan Maju Pilpres Jika Donald Trump Nyapres Lagi

Badan Energi Internasional pada 2023 mencatat Venezuela menguasai sekitar 17 persen cadangan minyak dunia. Meski demikian, bertahun-tahun salah urus dan praktik korupsi membuat negara tersebut jauh dari posisi sebagai produsen utama. Minyak Venezuela yang berkualitas rendah sebagian besar diolah menjadi diesel atau produk sampingan seperti aspal, bukan bensin, meskipun AS memiliki kilang di sekitar Teluk Meksiko yang dirancang khusus untuk mengolah minyak jenis ini.(ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button