Pertama di Indonesia, Anestesi Alami Berbahan Kemangi Profesor Unmul Tembus Pendanaan BRIN

Editorialkaltim.com – Ketergantungan Indonesia terhadap obat ikan impor masih sangat tinggi. Hingga kini, produk obat ikan lokal tercatat belum mencapai 5 persen dari kebutuhan nasional. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan tanaman obat yang melimpah, termasuk di Kalimantan Timur.
Kondisi tersebut mendorong Profesor Esti Handayani Hardi dari Universitas Mulawarman (Unmul) mengembangkan riset obat ikan alami berupa analgesik dan anestesi berbahan tanaman lokal. Inovasi tersebut berhasil menembus pendanaan Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi Gelombang 10 dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Pendanaan itu ditetapkan melalui Keputusan Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN Nomor 105/II.7/HK/2025 tentang Penerima Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju Kompetisi Gelombang 10. Riset ini menjadi yang pertama di Indonesia yang secara khusus mengembangkan anestesi alami berbasis kemangi untuk kebutuhan akuakultur.

Dalam praktik akuakultur, penggunaan analgesik dan anestesi dinilai krusial untuk menekan tingkat stres dan kematian ikan maupun udang, terutama saat transportasi dan penanganan.
“Anastesi dalam akuakultur dibutuhkan untuk transportasi, hendling, grading, pemijahan, vaksinasi, dsb. untuk mengurangi stress dan kematian pasca handling diperlukan penggunaan anastesi dan analgesik,” tulis Profesor Esti.
Ia menjelaskan, selama ini sektor akuakultur masih bergantung pada anestesi sintetis MS222 yang telah dilarang karena berpotensi menimbulkan residu berbahaya, sementara Indonesia belum memiliki produk anestesi dan analgesik alami produksi dalam negeri.
“Namun MS222 masih menjadi pilihan utama padahal penggunaan sdh dilarang karna ada efek residu. Hingga kini blm ada produk anastesi dan analgesik alami yg diproduksi Indonesia,” jelasnya.
Melalui pendanaan RIIM kompetisi BRIN, Profesor Esti bersama tim Unmul mengembangkan produk anestesi dan analgesik alami pertama di Indonesia berbahan baku kemangi dari tujuh kabupaten/kota di Kalimantan Timur.
“Sehingga melalui riset RIIM kompetisi BRIN, UNMUL mengembangkan produk anastesi analgesik pertama di Indonesia berbahan baku Kemangi dari 7 Kabupaten/Kota di Kalimantan Timur,” ungkapnya.(ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



