Di Balik Senyum Perempuan Tangguh: Realita Single Mother di Kaltim yang Jarang Dibicarakan

Oleh: Riyawan, S.Hut – Pengamat Sosial
Editorialkaltim.com – Di tengah geliat industri tambang, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), serta hamparan hutan hujan tropis yang membentang luas di Kalimantan Timur, terdapat satu realitas sosial yang kerap luput dari sorotan publik, yakni perjuangan perempuan single mother. Sepanjang tahun 2024, tercatat sekitar 6.216 hingga 6.279 perempuan di Kalimantan Timur resmi menyandang status janda akibat perceraian.
Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya, tersimpan kisah tentang perempuan yang harus mengasuh, menghidupi, sekaligus menghadapi tekanan sosial seorang diri.
Menjadi single mother bukanlah pilihan yang mudah. Ia merupakan keputusan terakhir dari perjalanan panjang yang penuh luka, pertimbangan, dan keberanian. Namun, di tengah upaya bertahan hidup, para ibu tunggal masih harus berhadapan dengan stigma, label, serta ekspektasi sosial yang kerap tidak adil.
Awal Perjalanan Hidup Seorang Ibu Tunggal
Perceraian sering dianggap sebagai akhir dari sebuah cerita. Bagi single mother, justru sebaliknya. Perceraian menjadi awal dari fase kehidupan yang jauh lebih berat. Usai keluar dari ruang sidang pengadilan agama, seorang perempuan langsung memikul peran ganda: sebagai ibu sekaligus kepala keluarga.
Rutinitas harian mereka nyaris tanpa jeda. Pagi hari diisi dengan menyiapkan anak sekolah, siang bekerja mencari nafkah, malam kembali mengurus rumah, mendampingi anak belajar, dan menyembunyikan lelah di balik senyum. Tidak ada ruang untuk sakit, tidak ada waktu untuk menyerah.
Dalam struktur sosial kita, status “janda” masih kerap dilekatkan dengan konotasi negatif. Perempuan single parent sering dipandang sebagai pihak yang “gagal menjaga rumah tangga”. Padahal, mayoritas perceraian justru diajukan oleh istri sebagai upaya keluar dari konflik berkepanjangan, tekanan ekonomi, perselingkuhan, hingga kekerasan dalam rumah tangga.
Tulisan di Kompasiana berjudul Mengasuh, Menghidupi, dan Menghadapi Label menggambarkan bagaimana single parent perempuan bukan hanya mengurus anak dan ekonomi, tetapi juga harus menghadapi label sosial yang melelahkan secara mental.
Perceraian di Kaltim: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Data perceraian di Kalimantan Timur menunjukkan pola yang relatif konsisten. Lebih dari 75 persen kasus merupakan cerai gugat, artinya diajukan oleh pihak perempuan.
Di Samarinda saja, sepanjang 2024 tercatat sekitar 1.570 janda baru. Faktor penyebab utamanya meliputi perselisihan rumah tangga, masalah ekonomi, serta pasangan yang meninggalkan keluarga. Balikpapan mencatat pola serupa, dengan tekanan ekonomi sebagai pemicu dominan.
Sementara itu, di Mahakam Ulu muncul faktor spesifik seperti praktik perjudian yang menghancurkan keuangan dan kepercayaan dalam rumah tangga. Di Berau, ratusan perempuan juga menghadapi nasib serupa.
Angka-angka ini menegaskan satu hal: perceraian bukan persoalan personal semata, melainkan fenomena struktural yang berkaitan erat dengan kondisi ekonomi, budaya patriarki, serta minimnya sistem dukungan keluarga.
Artikel Stigma “Janda” dan Beban Gender di Kompasiana menyoroti bagaimana perempuan sering kali menanggung beban moral yang jauh lebih berat dibandingkan laki-laki pascaperceraian. Mereka dihakimi, disudutkan, bahkan diawasi secara sosial.
Saat Ekonomi, Mental, dan Stigma Menjadi Ujian
Menjadi single mother berarti masuk ke dalam jerat persoalan multidimensi yang saling berkaitan.
Pertama, jerat ekonomi. Banyak perempuan harus kembali bekerja setelah lama berada di ranah domestik. Dengan keterampilan terbatas dan lapangan kerja yang belum ramah perempuan, mereka kerap terjebak di sektor informal dengan penghasilan tidak stabil.
Kedua, tekanan psikologis. Perceraian menyisakan trauma, rasa gagal, dan kelelahan emosional. Ibu tunggal dituntut tetap kuat demi anak-anaknya, meski dirinya sendiri belum sepenuhnya pulih. Akses terhadap layanan konseling masih sangat terbatas dan sering dianggap bukan kebutuhan prioritas.
Ketiga, stigma sosial. Label “janda” masih sarat stereotip negatif. Para ibu tunggal rentan dikucilkan, menjadi bahan gosip, bahkan dipersepsikan sebagai ancaman. Artikel Kampung Janda di Kompasiana menunjukkan bagaimana perempuan justru membangun solidaritas dan ketahanan di tengah stigma yang melekat.
Stigma tersebut tidak hanya menyakitkan secara emosional, tetapi juga membatasi akses terhadap peluang kerja, bantuan sosial, serta dukungan komunitas.
Mencari Solusi agar Ibu Tunggal Lebih Berdaya
Sudah saatnya pendekatan terhadap single mother diubah. Mereka tidak membutuhkan simpati semata, melainkan dukungan yang bersifat sistemik dan berkelanjutan.
Pemerintah daerah, melalui program pemberdayaan perempuan, perlu memperkuat pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar, membuka akses permodalan, serta menyediakan layanan penitipan anak yang terjangkau. Layanan kesehatan mental dan pendampingan hukum juga harus mudah diakses.
Lebih dari itu, perubahan paling mendasar terletak pada cara pandang masyarakat. Menghapus stigma harus dimulai dari bahasa, sikap, dan kebijakan di tingkat paling bawah, mulai dari RT, RW, hingga komunitas lokal.
Dalam refleksi spiritual di Kompasiana berjudul Tuhan yang Menyediakan, digambarkan bagaimana banyak single mother bertahan dengan iman, harapan, dan keyakinan bahwa selalu ada jalan, meski sempit dan berliku.
Kesimpulan
Single mother di Kalimantan Timur bukanlah simbol kegagalan, melainkan potret ketangguhan perempuan Indonesia. Mereka membesarkan generasi masa depan dalam kondisi yang tidak ideal, namun penuh cinta dan perjuangan.
Mengubah stigma menjadi empati, serta belas kasihan menjadi pemberdayaan, merupakan tanggung jawab bersama. Ketika sistem hadir untuk mendukung dan masyarakat berhenti menghakimi, maka jerat lelah dan tekanan sosial dapat berubah menjadi tangga menuju kehidupan yang lebih bermartabat.(*)
*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi editorialkaltim.com
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



