Internasional

Iran Tak Akan Serang Kapal China dan Rusia di Selat Hormuz, Hanya Sekutu AS

Ilustrasi (Foto: AFP)

Editorialkaltim.com — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memastikan tidak akan menyerang kapal-kapal milik China dan Rusia yang melintas di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah.

Pernyataan tersebut disampaikan IRGC melalui media afiliasi pemerintah Iran, Tasnim. Dalam keterangan resminya, IRGC menegaskan bahwa target serangan hanya akan diarahkan kepada kapal-kapal komersial milik Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara Eropa yang dianggap mendukung kedua negara tersebut.

“Jika mereka teramati, mereka pasti akan terkena serangan,” demikian pernyataan IRGC, seperti dikutip Al Jazeera, Jum’at (6/3/2026).

IRGC juga menegaskan bahwa Iran memiliki hak untuk mengendalikan jalur pelayaran di Selat Hormuz selama masa perang berlangsung.

Baca  Update Korban Kebrutalan Israel di Gaza 40.738 Tewas, 94.154 Luka

“Kami sudah bilang sebelumnya, sesuai hukum dan resolusi internasional, selama masa perang, Iran berhak untuk mengendalikan lalu lintas di Selat Hormuz,” lanjut IRGC.

Ketegangan di kawasan meningkat setelah Iran menutup Selat Hormuz menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran pada Sabtu (28/2) lalu.

Penasihat senior IRGC, Ebrahim Jabari, pada Minggu (1/3) menegaskan bahwa kapal apa pun yang mencoba melintasi jalur perairan strategis tersebut akan menghadapi serangan.

“Selat telah ditutup. Siapapun yang mencoba melintas, IRGC dan angkatan laut reguler (Iran) akan membakar kapal-kapal tersebut,” kata Jabari dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Al Jazeera.

Baca  Bekuk Inggris 1-0, Spanyol Juara Piala Dunia Wanita 2023

Penutupan Selat Hormuz berdampak besar terhadap pasar energi global. Harga minyak dunia dilaporkan melonjak lebih dari 15 persen setelah jalur pelayaran vital tersebut ditutup.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sekitar 20 hingga 30 persen perdagangan minyak mentah global serta gas alam cair (LNG) melewati selat sempit tersebut setiap harinya.

Di tengah konflik yang meningkat, China dan Rusia diketahui menjadi sekutu Iran yang secara terbuka mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran.

Baca  Pemimpin Hamas dibunuh dengan bom yang dipasang 2 bulan lalu

China merupakan salah satu pengimpor minyak terbesar dari Iran, sementara Rusia adalah eksportir minyak utama dunia. Sejumlah pengamat menilai Moskow justru berpotensi memperoleh keuntungan dari konflik ini karena pasokan minyaknya kembali dilirik negara-negara Asia Selatan.

India sendiri selama ini menjadi salah satu pengimpor minyak dari kawasan Timur Tengah. Namun sebelumnya, New Delhi sempat meningkatkan impor minyak dari Rusia sebelum akhirnya menguranginya akibat tekanan dari Amerika Serikat.(ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button