
Editorialkaltim.com – Pemerintah Kota Samarinda menerima tawaran investasi besar di sektor pengelolaan sampah dari PT Kimia Alam Subur (KAS). Investor tersebut menyatakan siap menggelontorkan dana sekitar 40 juta dolar AS atau setara Rp680 miliar untuk pengolahan sampah berbasis teknologi pirolisis di Samarinda.
Meski menyambut positif rencana investasi tersebut, Pemerintah Kota Samarinda menegaskan perlunya paparan teknis yang lebih rinci sebelum kerja sama direalisasikan. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Suwarso, usai pemaparan awal dari pihak investor.
“Pak Wali menyambut baik kehadiran PT Kimia Alam Subur untuk bekerja sama dengan Pemerintah Kota Samarinda, tetapi ada banyak catatan yang harus dijelaskan secara detail oleh pihak investor,” ujar Suwarso, Rabu (21/1/2026).
Menurut Suwarso, besarnya nilai investasi harus sebanding dengan kejelasan aspek teknis dan dampak lingkungan yang ditimbulkan. Dalam paparan awal, investor belum menjelaskan secara detail kapasitas mesin pirolisis, jam operasional reaktor, hingga standar emisi yang akan diterapkan.
“Belum dijelaskan secara rinci kapasitas mesinnya berapa, jam kerja reaktornya, standar emisi yang dipakai apa, termasuk SOP jika terjadi kedaruratan,” jelasnya.
Selain nilai investasi, skema kerja sama yang ditawarkan juga menjadi perhatian. Investor menyebutkan pengolahan sampah akan dilakukan tanpa tipping fee, dengan kebutuhan lahan sekitar 2 hektare di kawasan TPA dan kapasitas pengolahan mencapai 500 ton sampah per hari.
Wali Kota Samarinda juga meminta adanya simulasi emisi, penjelasan pengelolaan limbah cair, serta kepastian bahwa Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) akan diproses sesuai ketentuan melalui Kementerian Lingkungan Hidup. Pemerintah kota menilai hal tersebut penting mengingat besarnya skala investasi dan dampak jangka panjang pengelolaan sampah.
Suwarso menambahkan, pembagian manfaat dari perdagangan karbon yang menjadi bagian dari skema investasi turut disorot. Berdasarkan paparan investor, pemerintah kota hanya akan menerima 2,5 persen dari carbon trading.
“Terkait carbon trading, pemerintah kota hanya mendapatkan 2,5 persen dan itu dinilai sangat kecil, sehingga bentuk kerja samanya masih perlu dibahas kembali agar daerah juga mendapatkan manfaat,” katanya.
Hingga pertemuan berakhir, sejumlah pertanyaan yang diajukan Wali Kota Samarinda terkait detail teknis dan manfaat ekonomi dari investasi Rp680 miliar tersebut belum terjawab sepenuhnya. Paparan lanjutan rencananya akan disampaikan oleh mitra PT KAS, yakni CO Energi yang disebut berbasis di Arab Saudi.(ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



