Nasional

Impor Energi dari AS Dinilai Lebih Mahal, Celios: Bisa Bebani Pertamina hingga Rp11 Triliun

Kapal tanker Pertamina (Foto: Dok Pertamina)

Editorialkaltim.com — Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai rencana peningkatan impor energi dari Amerika Serikat berpotensi menambah beban biaya bagi Indonesia.

Menurut Bhima, berdasarkan perhitungan yang dilakukan, harga impor minyak dari Amerika Serikat dinilai bisa lebih mahal dibandingkan impor dari negara lain.

“Setelah dicek, kalaupun sama-sama melakukan impor BBM, sampai ke Indonesia serisinya bisa 2 sampai 6 dolar per barel dibanding kita impor dari Singapura,” ungkap Bhima, yang digelar secara daring Kamis (5/2/2026).

Baca  Gurauan Megawati Ke Puan: Gantianlah Kamu jadi Ketum, Aku Ketua DPR

Ia menjelaskan selisih harga tersebut berpotensi berdampak signifikan terhadap keuangan perusahaan energi nasional.

“Jadi Pertaminanya, itu satu tahun, diperkirakan akan ada selisih 11 triliun rupiah,” katanya.

Bhima menilai kondisi tersebut pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap besaran subsidi maupun kompensasi energi yang harus ditanggung pemerintah.

Di sisi lain, ia juga menyoroti arah kebijakan transisi energi yang dinilai belum sepenuhnya selaras dengan pengembangan energi bersih. Menurutnya, narasi kebijakan yang berkembang justru mendorong peningkatan penggunaan biodiesel sebagai alternatif energi.

“Nah, tapi ini yang membuat akhirnya pemerintah cukup pede dengan ART, dan bilang, yaudah kalau gitu kita impor. 253 triliun rupiah. Impor dalam bentuk minyak dan juga LPG,” ujarnya.

Baca  Empat Perusahaan Kendaraan Listrik China Sepakat, Indonesia Jadi Hub Produksi Ekspor

Bhima mengingatkan strategi tersebut dapat menimbulkan dampak ganda terhadap lingkungan. Selain impor energi yang tetap tinggi, peningkatan produksi biodiesel juga berpotensi mendorong ekspansi perkebunan sawit.

“Jadi bukannya kita tobat ekologis, tapi dengan perjanjian ART ini malah double hit,” terangnya.

Ia juga menyoroti rencana peningkatan bauran bioetanol yang disebut akan mendapat dukungan dalam perjanjian tersebut. Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi mendorong pembukaan lahan baru untuk produksi bahan baku bioetanol.

Baca  Skor Korupsi Indonesia Melorot ke 34, Lebih Buruk dari Timor Leste

Selain itu, Bhima menilai wacana pengembangan reaktor nuklir modular perlu dipertimbangkan secara hati-hati dari sisi biaya.

“Nah ini langsung aja. Kalau Indonesia bikin nuklir reaktor, dibandingkan dengan semua alternatif energi terbarukan, semua modular nuklir reaktor jauh lebih mahal,” katanya.(ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button