KaltimSamarinda

Halal Bihalal MUI Kaltim Soroti Ancaman Polarisasi, Ajak Warga Jaga Kebersamaan

Sambutan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim, Muhammad Rosyid dalm Acara Halal Bihalal MUI Kaltim (Foto: Editorialkaltim/Adryan)

Editorialkaltim.com – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim Muhammad Rasyid menyoroti potensi perpecahan sosial akibat polarisasi yang dinilai mulai terbentuk di tengah masyarakat. Ia mengingatkan, fenomena tersebut dapat mengganggu keharmonisan jika tidak diantisipasi sejak dini.

“Ada polarisasi tertentu bentuknya kebencian. Isinya ujaran kebencian dan itu terpola. Yang sudah masuk pada lingkup itu kadang-kadang tidak menyadari objektivitas,” ujarnya, Selasa (7/4/2026), di Samarinda.

Pernyataan itu disampaikan saat kegiatan Silaturahmi dan Halal Bihalal Idulfitri 1447 H/2026 M yang digelar di Hotel Puri Senyiur Samarinda. Kegiatan tersebut mengangkat tema kebersamaan dan harmoni sebagai fondasi menjaga persatuan.

Rasyid menilai momentum halal bihalal menjadi ruang penting untuk memperkuat hubungan antarkelompok sekaligus membangun kesepahaman bersama. Ia menyebut, kesatuan menjadi kunci menghadapi tantangan bangsa ke depan.

Baca  PAD Kaltim 2026 Ditarget Rp10,75 Triliun, Sumbang Hampir Separuh Pendapatan Daerah

“Pertemuan hari ini adalah untuk mengaji kebersamaan. Kita merasa sangat penting karena satu kepentingan, yakni masyarakat Indonesia yang menginginkan kondusivitas negara,” katanya.

Ia menambahkan, tanpa kondisi yang kondusif, berbagai program pembangunan nasional akan menghadapi hambatan serius. Karena itu, seluruh elemen masyarakat diminta menjaga stabilitas sosial.

Selain isu polarisasi, Rasyid juga menyinggung tantangan menuju visi Indonesia Emas 2045. Menurutnya, target tersebut membutuhkan kolaborasi kuat lintas sektor, termasuk organisasi keagamaan.

Dalam konteks itu, ia menilai pentingnya peningkatan literasi masyarakat, termasuk pemahaman terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Hal ini dinilai sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

Baca  DPKH Kaltim Perkuat Program Makanan Tambahan Hewani untuk Tekan Angka Stunting

“MUI ingin bersama semua pihak, termasuk pimpinan ormas keagamaan, baik Islam maupun non Islam. Karena itu kami mengundang semuanya hadir bersama,” ujarnya.

Ia juga menyoroti faktor psikologis masyarakat sebagai tantangan dalam menjaga persatuan. Menurutnya, ketidakmampuan menerima perbedaan hingga sulit memaafkan kerap memicu konflik sosial.

“Maka itulah yang perlu kita benahi, agar kita bisa bersama membawa masyarakat, bangsa, dan negara menuju Indonesia Emas 2045,” tuturnya.

Di sisi lain, Rasyid turut menyinggung posisi Kalimantan Timur sebagai lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia menyebut hal tersebut sebagai peluang besar, sekaligus tantangan yang harus dihadapi bersama.

Baca  Firnadi Sebut Rekomendasi BPK Bukan Catatan, Tapi Tuntutan yang Harus Dituntaskan

“Kita bergembira Kaltim menjadi lokasi ibu kota Nusantara. Keberuntungannya luar biasa, tetapi persoalan lain juga akan ikut,” katanya.

Ia menegaskan pentingnya sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi berbagai dinamika ke depan. Menurutnya, masyarakat juga memiliki peran penting dalam mengawal kebijakan publik.

“Kita tidak bisa membiarkan pemerintah berjalan sendiri tanpa kita kawal. Namun, kita tetap harus mandiri dalam berpikir dan bersikap,” tutupnya.(adr/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button