Opini

Efisiensi Program Makan Siang Gratis dalam Meningkatkan Gizi Masyarakat

Oleh: Dwi Astri Andriani, Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Kalimantan Timur

Editorialkaltim.com – Mengutip Alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, tujuan untuk “memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,” menjadi landasan kuat dalam pelaksanaan program makan siang gratis oleh pemerintah, yang dimulai sejak 6 Januari 2025. Program ini, yang dilakukan di 26 provinsi dengan 190 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), bertujuan untuk memberikan makan siang bergizi terutama kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan siswa-siswi PAUD hingga SMA, sesuai dengan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian.

Penelitian terkini oleh Loriza et al. (2024) menunjukkan bahwa gizi anak-anak kita masih berada pada rentang kurang, dengan asupan energi yang tidak mencukupi. Ini menyoroti pentingnya intervensi seperti makan siang gratis dalam menciptakan generasi emas yang sehat dan kompeten.

Baca  KAMMI Kaltim Tuntut Pemprov Stabilkan Harga Bahan Pokok Jelang Hari Raya, Jangan Bebankan Rakyat!

Sayangnya, terdapat kekacauan dalam penyelenggaraan program ini, khususnya berkaitan dengan alokasi anggaran yang berubah dari Rp. 15.000 menjadi Rp. 10.000 per anak. Meskipun Presiden terpilih, Pak Prabowo, menyatakan bahwa anggaran tersebut akan disesuaikan berdasarkan jumlah anak dalam satu keluarga yang memenuhi kriteria sasaran, tetap terdapat kekhawatiran apakah dana tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi yang adekuat.

Menurut pakar gizi dari Universitas Airlangga, Qonita Rachmah, dengan anggaran sebesar Rp. 10.000 per anak, kecukupan gizi masih dapat terpenuhi dengan syarat penggunaan bahan pangan lokal dan efisiensi biaya distribusi dan tenaga kerja.

Baca  Wujudkan Ketahanan Pangan Penopang IKN, Close Loop Jadi Solusi Sistem Kemitraan Peternakan Kambing dan Domba di Kaltim

Namun, program ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pedagang kantin sekolah, yang merasa terancam akan kehilangan penghasilan. Menanggapi hal ini, juru bicara kantor kepresidenan, Dedek Prayudi, menyarankan adanya penyesuaian jadwal makan siang gratis dengan jam operasional kantin sekolah untuk meminimalisir dampak negatif kepada pedagang.

Kritik dan saran terus bermunculan, menunjukkan bahwa program makan siang gratis ini membutuhkan evaluasi dan penyesuaian berkelanjutan untuk memastikan efektivitasnya dalam meningkatkan gizi dan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi lokal melalui sinergi dengan UMKM kantin sekolah. Evaluasi ini penting untuk memastikan bahwa makanan yang disajikan tidak hanya bergizi tetapi juga aman dan sehat.

Baca  Rp71 Triliun untuk Makan Bergizi Gratis, Politisi PDIP: Masih Logis dan Tak Ganggu Fiskal

Harapan ke depan adalah program ini tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang menjadi salah satu pilar penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, sesuai dengan cita-cita para pahlawan bangsa yang kita peringati setiap Hari Pahlawan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker