Internasional

Dokumen Dibuka, Skandal Lama Terkuak: Siapa Jeffrey Epstein dan Mengapa Kasusnya Terus Disorot

Jeffrey Epstein (Foto: Reuters)

Editorialkaltim.cok – Nama Jeffrey Epstein kembali menjadi perhatian publik internasional setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat merilis jutaan dokumen yang berkaitan dengan dirinya. Pembukaan berkas tersebut menghidupkan kembali rangkaian panjang skandal yang mencakup kasus hukum, jaringan pergaulan elite, serta dugaan penyalahgunaan kekuasaan dan kekayaan yang selama bertahun-tahun melekat pada sosok mantan taipan keuangan itu.

Rilis dokumen ini memicu pertanyaan lama yang belum pernah terjawab tuntas. Meski Epstein telah meninggal dunia pada 2019, kasusnya terus relevan karena menyentuh isu sensitif tentang kejahatan seksual, relasi kekuasaan, dan celah dalam sistem hukum.

Berdasarkan laporan The Guardian, Jeffrey Epstein lahir dan dibesarkan di New York. Ia sempat menempuh pendidikan di bidang fisika dan matematika di universitas, meski tidak pernah menyelesaikan studinya hingga memperoleh gelar.

Pada pertengahan 1970-an, Epstein bekerja sebagai pengajar matematika dan fisika di Dalton School, sebuah sekolah swasta elite di New York. Dari lingkungan pendidikan tersebut, jalannya ke dunia keuangan mulai terbuka. Ayah salah satu muridnya disebut terkesan dengan kemampuan Epstein dan memperkenalkannya kepada seorang mitra senior di bank investasi Wall Street, Bear Stearns.

Langkah ini menjadi titik balik penting. Setelah bergabung dengan Bear Stearns, Epstein mengalami kenaikan karier yang relatif cepat. Dalam kurun sekitar empat tahun, ia telah mencapai posisi mitra di perusahaan tersebut.

Pada 1982, Epstein mendirikan perusahaan manajemen keuangan sendiri bernama J Epstein and Co. Perusahaan ini mengelola aset klien dengan nilai lebih dari 1 miliar dolar AS dan berkembang pesat.

Seiring meningkatnya kekayaan, Epstein membangun gaya hidup supermewah. Ia memiliki rumah besar di Florida, peternakan di New Mexico, serta properti di New York yang disebut-sebut sebagai rumah pribadi terbesar di kota tersebut.

Baca  Turki Murka atas Pembunuhan Keji Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh

Kekayaan ini pula yang mengantarkannya masuk ke lingkaran selebritas, politisi, seniman, dan tokoh akademik ternama. Jeffrey Epstein dikenal memiliki jaringan pergaulan luas dan kerap terlihat bersama tokoh publik terkenal di berbagai acara sosial eksklusif.

Pada awal 2000-an, sejumlah figur ternama diketahui memiliki hubungan pertemanan atau profesional dengan Epstein. Beberapa di antaranya kemudian menyatakan bahwa hubungan tersebut telah berakhir jauh sebelum kasus hukum Epstein mencuat ke publik.

Ada pula yang menegaskan bahwa kedekatan mereka dengan Epstein tidak berkaitan dengan tindak kejahatan apa pun. Meski demikian, luasnya jaringan sosial Epstein menjadi salah satu faktor utama yang membuat kasusnya terus menuai perhatian global.

Di sisi lain, Epstein dikenal tertutup soal kehidupan pribadinya. Ia dilaporkan sering menghindari acara publik tertentu dan menjaga lingkaran sosialnya secara selektif. Epstein tidak pernah menikah, meskipun diketahui pernah menjalin hubungan dengan beberapa perempuan, termasuk dari kalangan elite internasional.

Sejumlah orang yang pernah mengenalnya menggambarkan Epstein sebagai sosok penuh teka-teki, memiliki banyak lapisan kepribadian, dan sulit dipahami sepenuhnya. Persepsi ini semakin menguat setelah berbagai fakta terungkap ke publik.

Mengutip laporan BBC Internasional, masalah hukum Jeffrey Epstein mulai terungkap pada 2005. Saat itu, orang tua seorang gadis berusia 14 tahun melaporkan dugaan pelecehan seksual yang terjadi di rumah Epstein di Palm Beach, Florida.

Penyelidikan polisi menemukan sejumlah bukti, termasuk foto-foto gadis di bawah umur yang tersebar di dalam properti tersebut. Laporan media menyebut praktik pelecehan ini telah berlangsung selama bertahun-tahun dan melibatkan banyak korban.

Baca  PBB Tempelkan Israel di Daftar Global Pelanggar atas Kejahatan Pada Anak

Aparat penegak hukum menyatakan bahwa kesaksian para korban menunjukkan pola cerita yang serupa, sehingga memperkuat dugaan adanya kejahatan yang dilakukan secara sistematis.

Pada 2008, Jeffrey Epstein mencapai kesepakatan hukum dengan jaksa. Melalui kesepakatan ini, ia terhindar dari tuntutan federal yang berpotensi menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup.

Sebagai gantinya, Epstein dijatuhi hukuman 18 bulan penjara dengan ketentuan pembebasan kerja, yang memungkinkannya keluar masuk penjara selama sebagian besar hari kerja. Dalam praktiknya, ia hanya menjalani sekitar 13 bulan sebelum dibebaskan dengan status percobaan.

Kesepakatan ini menuai kritik luas dan disebut oleh banyak media sebagai salah satu kesepakatan hukum paling kontroversial dalam sejarah Amerika Serikat karena dianggap menutupi skala kejahatan yang sebenarnya.

Sejak 2008, Epstein terdaftar sebagai pelaku kejahatan seksual tingkat tiga di New York, dengan status seumur hidup. Status ini menunjukkan bahwa ia dinilai memiliki risiko tinggi untuk mengulangi perbuatannya, meski ia tetap mempertahankan sebagian besar aset dan propertinya.

Pada tahun-tahun setelah vonis, hubungan Epstein dengan sejumlah tokoh internasional kembali menjadi sorotan, termasuk hubungannya dengan Pangeran Andrew dari Inggris. Tuduhan yang muncul dari salah satu korban menyebut adanya keterlibatan pihak lain, meski tuduhan tersebut dibantah dan berujung pada penyelesaian hukum di luar pengadilan.

Pada 6 Juli 2019, Epstein ditangkap di New York setelah kembali dari Paris menggunakan jet pribadinya. Jaksa federal mendakwanya atas tuduhan perdagangan dan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, yang dipandang sebagai upaya membuka kembali penyelidikan yang sebelumnya dianggap tidak tuntas.

Permohonan jaminan Epstein ditolak, dan ia ditahan di Pusat Pemasyarakatan Metropolitan New York. Selama masa penahanan, ia sempat dirawat di rumah sakit akibat cedera leher sebelum akhirnya kembali ke sel tahanan.

Baca  Miris! Total Korban Tewas Akibat Perang di Gaza Capai 30.320 Orang

Pada Agustus 2019, Jeffrey Epstein ditemukan meninggal dunia di dalam selnya. Kematian tersebut secara resmi dinyatakan sebagai bunuh diri. Namun, peristiwa ini memicu kontroversi global dan berbagai spekulasi, mengingat besarnya kepentingan hukum dan politik yang terkait dengan kasusnya.

Istilah Epstein Files merujuk pada kumpulan dokumen yang digunakan sebagai barang bukti dalam berbagai perkara pidana dan gugatan perdata terkait Jeffrey Epstein dan orang-orang di sekelilingnya.

Dokumen tersebut mencakup buku kontak, catatan penerbangan jet pribadi, korespondensi email, serta arsip pengadilan. Sebagian berkas dirilis ke publik dalam kondisi disunting untuk melindungi privasi korban dan pihak lain yang tidak terlibat dalam kejahatan.

Dokumen tambahan dibuka secara bertahap antara 2019 hingga 2022 setelah melalui proses hukum yang panjang. Banyak dokumen berasal dari gugatan perdata yang diajukan oleh korban Epstein, Virginia Giuffre, terhadap Ghislaine Maxwell pada 2015.

Setelah kematian Epstein, perhatian publik beralih kepada Maxwell. Ia ditangkap pada 2020 dan didakwa membantu Epstein merekrut serta mempersiapkan korban di bawah umur. Pada 2021, juri menyatakan Maxwell bersalah atas sebagian besar dakwaan, termasuk perdagangan seks anak. Ia dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.

Dalam pernyataannya setelah vonis, Maxwell menyampaikan penyesalan mendalam atas keterlibatannya dengan Jeffrey Epstein dan penderitaan yang dialami para korban.(ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button