KaltimSamarinda

Dokter Muda Unmul Cerita Bertahan 4 Hari Terisolasi Saat Banjir Aceh

Dokter muda alumni Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman (Unmul), M. Ananta Buana foto bersama warga (Foto: Dok Pribadi)

Editorialkaltim.com – Pengalaman tak terlupakan dirasakan dokter muda alumni Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman (Unmul), M. Ananta Buana, saat menjalani program internsip Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) di daerah terdampak bencana di Provinsi Aceh. Ia ditempatkan di Kabupaten Gayo Lues, tepatnya di Desa Rerebe, wilayah terpencil dengan akses yang tidak mudah dijangkau.

“Adapun alasan utamanya memilih daerah terpencil Pertama mau coba suasana baru. Kemudian memang karena kita ini jiwa Mandar ya. Jadi jiwa-jiwa perantau sangat kuat kan. Dan mau nambah relasi terutama serta pengalaman,” ujarnya kepada Wartawan Editorialkaltim.com Sabtu (7/2/2026).

Program internsip itu mulai dijalani pada Mei 2025 usai menuntaskan pendidikan koas pada 2024. Internsip merupakan tahapan wajib bagi lulusan dokter sebelum praktik mandiri. Melalui program ini, dokter baru ditempa dengan pengalaman langsung pelayanan kesehatan di berbagai daerah, termasuk wilayah terpencil.

Selama bertugas, Ananta bersama 15 dokter internsip lainnya harus menempuh perjalanan sekitar dua hingga dua setengah jam dari pusat kota menuju lokasi penempatan. Kondisi jalan rusak dan rawan longsor menjadi tantangan harian.

Baca  Dispora Kaltim Giatkan Pembinaan Sepak Bola Junior untuk Penuhi Inpres No 3 Tahun 2019

Desa Rerebe sendiri hanya mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Saat musim hujan, listrik kerap padam akibat debit air meningkat. Sebaliknya, ketika kemarau, listrik juga sering mati karena pasokan terbatas. Jaringan komunikasi pun minim.

Memasuki enam bulan masa tugas, tepatnya November 2025, Ananta mendapat rotasi ke rumah sakit. Namun situasi berubah drastis ketika banjir besar melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Aceh, termasuk Gayo Lues.

“Pas enam bulan itu, tepatnya 20 November, saya baru rotasi ke rumah sakit. Seminggu setelahnya terjadi bencana,” kenangnya.

Hujan deras selama empat hari empat malam membuat akses jalan terputus total. Jembatan hanyut, beberapa desa tersapu arus sungai, dan jaringan komunikasi lumpuh. Tim medis di rumah sakit bahkan tidak langsung mengetahui kondisi di luar.

“Kami terisolasi empat hari di rumah sakit. Jalan di bawah sudah putus semua, jembatan hilang. Tidak ada akses masuk,” ujarnya.

Selama terisolasi, mereka tetap memberikan pelayanan medis di tengah keterbatasan logistik. Warung tutup, persediaan makanan terbatas, dan tidak ada pergantian tenaga kesehatan. Ananta dan tim berjaga hingga tiga hari tiga malam tanpa shift pengganti.

Baca  Gerakan One Zero Waste Kukar Jadi Prioritas Pengelolaan Sampah

Bantuan akhirnya datang pada hari keempat. Relawan bersama Direktur Rumah Sakit dan TNI tiba membawa logistik sekaligus melakukan pergantian shift. Dalam kondisi darurat itu, para dokter internsip harus menjalankan dua peran sekaligus: dokter pelayanan dan tenaga medis tanggap bencana.

Di tengah situasi krisis, ada momen dramatis yang membekas. Seorang pasien harus dirujuk ke kota, sementara jembatan penghubung telah hanyut. Tim medis terpaksa menggunakan tali sling untuk menyeberangi sungai yang berarus deras.

Pasien digendong melintasi sungai, lalu berjalan kaki sekitar lima jam menuju titik kendaraan yang bisa membawa ke kota.

“Mereka mengorbankan nyawa demi menyelamatkan pasien. Itu pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan,” katanya.

Akibat kondisi bencana, program internsip yang semula satu tahun dipersingkat menjadi delapan bulan. Jika seharusnya selesai Mei 2026, Ananta sudah merampungkan tugas pada Januari 2026.

“Harusnya selesai Mei 2026, tapi Januari 2026 sudah selesai. Jadi bisa lebih cepat kerja,” ujarnya.

Baca  Tampil di Kompas TV, Gubernur Harum Tekankan Gratispol Bukan Janji Politik

Para peserta internsip yang bertahan juga memperoleh penghargaan atas dedikasi di wilayah terdampak bencana, meski dalam perjalanannya ada yang mengundurkan diri karena kondisi mendesak.

Ananta menyebut pengalaman di daerah terpencil justru mengasah kemampuan klinis dan mental. Menurutnya, dokter di wilayah seperti itu benar-benar dibutuhkan masyarakat.

“Di daerah terpencil, skill kita sangat terlatih. Dokter sangat dibutuhkan dan dihargai masyarakat. Kita juga lebih dekat dengan warga karena sering turun ke posyandu dan desa-desa,” katanya.

Ke depan, ia berencana memperluas pengalaman kerja di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit dan perusahaan. Baginya, internsip di daerah bencana bukan sekadar kewajiban profesi, melainkan pembelajaran tentang ketangguhan dan pengabdian.

“Selagi masih muda, perbanyak pengalaman mengabdi. Itu akan jadi nilai jual di CV kita,” pesannya. (adr/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button