
Editorialkaltim.com – Gorengan selalu jadi primadona saat azan Magrib berkumandang. Tempe goreng, tahu isi, bakwan hingga pisang goreng seolah menjadi menu wajib takjil di meja makan. Rasanya gurih dan renyah memang menggoda, apalagi setelah seharian menahan lapar dan haus.
Namun di balik kenikmatannya, konsumsi gorengan saat berbuka puasa ternyata perlu dibatasi. Pasalnya, makanan yang diolah dengan cara digoreng mengandung kalori dan lemak yang cukup tinggi, terutama jika menggunakan banyak minyak dan dilapisi tepung.
Metode deep frying atau menggoreng dengan minyak banyak membuat kandungan kalori meningkat signifikan. Suhu tinggi saat proses penggorengan juga dapat meningkatkan kadar lemak trans yang berisiko bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.
Sebagai gambaran, satu potong tempe goreng tepung mengandung sekitar 72 kalori dan 4 gram lemak. Tahu isi mencapai 135 kalori dan 7 gram lemak, sementara bakwan mengandung 137 kalori dan 12 gram lemak. Pisang goreng memiliki sekitar 68 kalori dan 4 gram lemak, sedangkan singkong goreng sekitar 40 kalori dan 2 gram lemak.
Jika rata-rata kebutuhan kalori orang dewasa mencapai 2.100 kalori per hari, maka mengonsumsi lima potong bakwan saja sudah menyumbang hampir seperempat kebutuhan kalori harian. Padahal saat berbuka, biasanya masih ada nasi, lauk, minuman manis, hingga camilan tambahan lainnya.
Asupan kalori berlebih yang terjadi secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Tak hanya itu, konsumsi gorengan berlebihan juga dapat memicu kadar kolesterol tinggi yang berkontribusi terhadap penyakit jantung.
Lantas, apakah gorengan harus dihindari sepenuhnya? Tidak juga. Mengonsumsi satu potong gorengan saat berbuka masih diperbolehkan selama tidak berlebihan dan tetap diimbangi dengan makanan bergizi lainnya.
Sebagai alternatif yang lebih sehat, masyarakat bisa membuat gorengan sendiri di rumah dengan menggunakan minyak baru yang rendah lemak trans dan tidak dipakai berulang kali. Mengurangi penggunaan tepung juga dapat membantu menekan jumlah kalori.
Selain membatasi gorengan, penting pula memperhatikan menu berbuka yang lebih sehat. Kurma menjadi pilihan utama karena kaya energi dan kalium yang membantu fungsi otot serta saraf. Smoothies buah dan sayur bisa menjadi pengganti minuman tinggi gula.
Pilihan lain seperti sup tahu yang ringan, telur rebus yang tinggi protein, hingga bubur kacang hijau yang kaya serat dan zat besi juga bisa menjadi alternatif takjil sehat. Alpukat, yoghurt, kacang-kacangan, dan buah kering pun bisa melengkapi menu berbuka.
Yang tak kalah penting, hindari makan berlebihan saat berbuka karena dapat memicu refluks asam lambung. Perbanyak konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi selama menjalankan ibadah puasa.
Intinya, gorengan memang boleh dinikmati saat berbuka. Namun, kendali diri tetap menjadi kunci agar tubuh tetap sehat selama Ramadan.(ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



