BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Rp100 T Buat Subsidi Energi

Editorialkaltim.com – Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) tetap ditahan meski harga minyak dunia terus mengalami kenaikan. Untuk menjaga kebijakan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan tambahan anggaran subsidi energi hingga Rp100 triliun tahun ini.
Kebijakan ini menjadi langkah strategis agar masyarakat tidak terdampak langsung tekanan global, terutama dari lonjakan harga minyak mentah. Pemerintah memilih memperkuat subsidi energi dibandingkan menaikkan harga BBM di dalam negeri.
“Iya kira-kira sekitar sembilan puluh sampai seratus triliun rupiah tambahan subsidi energi tahun ini untuk menjaga harga tetap stabil,” ujar Purbaya, Rabu (1/4/2026), di Wisma Danantara seperti dikutip dari CNN Indonesia.
Ia menegaskan tambahan anggaran tersebut khusus dialokasikan untuk subsidi energi. Pemerintah masih melakukan penghitungan lanjutan terkait besaran final kebutuhan anggaran.
Menurutnya, kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam posisi yang aman sehingga mampu menopang kebijakan penahanan harga BBM tersebut di tengah tekanan global.
“Kondisi keuangan negara kita amat baik dan memiliki bantalan fiskal cukup besar untuk menjaga stabilitas subsidi energi nasional,” katanya.
Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya harga minyak dunia yang berpotensi membebani anggaran negara. Dengan menahan harga BBM, pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat tetap stabil.
Sementara itu, Kementerian Keuangan mencatat realisasi belanja subsidi dan kompensasi energi hingga akhir Februari 2026 telah mencapai Rp51,5 triliun. Angka ini setara 11,5 persen dari target APBN tahun berjalan.
Jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, angka tersebut melonjak drastis hingga 382,5 persen. Lonjakan terutama berasal dari belanja kompensasi energi yang mencapai Rp44,1 triliun, sedangkan subsidi langsung tercatat Rp7,4 triliun.
Kenaikan belanja energi ini dipicu berbagai faktor, mulai dari fluktuasi harga minyak mentah Indonesia, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga meningkatnya konsumsi BBM, LPG, serta listrik di dalam negeri.
Selain itu, dinamika geopolitik global juga turut memberikan tekanan terhadap harga energi. Pemerintah sebelumnya telah memiliki pengalaman menghadapi kondisi serupa saat krisis energi global yang dipicu konflik Rusia-Ukraina pada 2022.(ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



