KaltimKutim

Akademisi Unmul Sorot Penurunan Pertumbuhan Ekonomi Kutai Timur

Akademisi sekaligus pengamat ekonomi Universitas Mulawarman, Purwadi Purwoharsojo (Foto: Dok Pribadi)

Editorialkaltim.com — Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kutai Timur (Kutim) anjlok drastis pada 2025. Dari sebelumnya 9,82 persen di 2024, kini hanya tersisa 1,05 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Akademisi sekaligus pengamat ekonomi Universitas Mulawarman, Purwadi Purwoharsojo, menilai penurunan ini tak lepas dari struktur ekonomi Kutim yang masih sangat bergantung pada sektor pertambangan.

“Daerah seperti Kutim ini sangat tergantung pada sumber daya alam. Kalau permintaan dari luar, seperti China atau India, turun, dampaknya langsung terasa ke daerah,” ujarnya, Senin (23/3/2026).

Baca  Forkopimda Kutim Optimis Sukseskan Pemilu 2024 dengan Fokus pada Keamanan dan Logistik

Ia menjelaskan, kontribusi sektor tambang di Kutim diperkirakan mencapai sekitar 70 persen terhadap total perekonomian daerah. Kondisi ini membuat ekonomi Kutim sangat rentan terhadap fluktuasi harga dan permintaan pasar global.

Menurutnya, ketika permintaan komoditas menurun, dampaknya langsung tercermin pada melambatnya pertumbuhan ekonomi daerah. Situasi ini menunjukkan belum kuatnya sektor-sektor alternatif di luar pertambangan.

Selain itu, Purwadi juga menyoroti kebijakan pemangkasan Dana Bagi Hasil (DBH) yang dinilai turut mempersempit ruang fiskal pemerintah daerah.

“DBH itu hak daerah. Ketika dipangkas, otomatis kemampuan daerah untuk belanja juga turun,” jelasnya.

Baca  Pameran Buku DSBK 2025 Tampilkan Karya Peserta Mancanegara

Ia menekankan, kondisi tersebut harus segera diantisipasi melalui langkah diversifikasi ekonomi. Salah satunya dengan mengoptimalkan peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) agar mampu berkontribusi lebih besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Selama ini daerah hanya jadi penonton. Sumber daya alamnya besar, tapi yang menikmati justru pihak luar,” ungkapnya.

Menurutnya, penguatan BUMD harus dilakukan secara profesional dan terarah agar dapat menjadi sumber pendapatan baru. Dengan begitu, ketergantungan terhadap sektor tambang maupun dana transfer pusat dapat dikurangi.

Baca  DPRD Samarinda Berencana Evaluasi Standar Keselamatan Gedung

Purwadi pun mengingatkan, tanpa pembenahan serius, pola ekonomi yang naik saat booming dan turun saat harga komoditas melemah akan terus berulang di Kutim.

“Kalau tidak ada pembenahan, pola seperti ini akan terus terjadi. Naik tinggi saat booming, lalu turun lagi ketika kondisi global berubah,” pungkasnya. (adr/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button