KaltimPenajam Paser Utara

Karhutla Gambut di PPU Sulit Dipadamkan, Petung hingga Lawe-Lawe Jadi Perhatian

Kawasan gambut Petung yang terbakar memasuki hari ke-13 pada 10 Oktober 2026. (Foto: BPBD PPU)

Editorialkaltim.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, masih menjadi perhatian serius. Cuaca ekstrem dan karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman berlangsung lama. Bahkan, api berpotensi kembali menyala meski permukaan lahan terlihat sudah padam.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU Nurlaila mengatakan, kebakaran di kawasan Petung telah berlangsung selama 12 hari. Luas lahan terdampak diperkirakan mencapai 36 hektare dan hingga kini masih dalam penanganan petugas.

“Petung sampai sekarang belum padam masih penanganan sudah 12 hari terkendala luas, gambut. Teknik penanganannya ribet. Perlu waktu untuk memadamkan gambut itu,” ujarnya, Jumat (9/10/2026).

Selain Petung, lahan gambut di kawasan Nenang, mulai RT 4 hingga RT 14, juga masih dalam pemantauan petugas setelah delapan hari penanganan.

Baca  Ketua DPRD PPU Dukung Penuh Sinergi untuk Pembangunan Daerah

Nurlaila menjelaskan, pemadaman di lahan gambut tidak bisa dilakukan hanya dengan menyiram permukaan tanah. Petugas harus menyemprotkan air secara terus-menerus hingga meresap ke lapisan gambut untuk memastikan bara api benar-benar padam.

“Kalau dengan semprotan air ya dijadikan kayak penuh dengan air, dijadikan kayak bubur gitu. Lama disemprot. Satu meter persegi aja sudah berjam-jam. Apalagi kalau sampai 36 hektare,” jelasnya.

Penanganan karhutla semakin sulit akibat angin kencang yang berpotensi membawa material terbakar ke lokasi lain. Bara api yang terbawa angin dapat memicu munculnya titik kebakaran baru ketika jatuh di lahan kering.

“Makanya kadang-kadang kebakaran hutan dan lahan sekarang ini agak berbeda, tiba-tiba apinya loncat sana, karena dia terbawa angin itu material yang masih mengandung api itu terbang, jatuh di tempat material kering, jadi lagi. Itulah banyak titiknya. Dan kondisi cuacanya memang ekstrem,” ungkapnya.

Baca  Gubernur Kaltim Ungkap Labuan Cermin Punya Potensi Wisata Kelas Dunia

Sementara itu, kebakaran di RT 4 Lawe-Lawe juga mendapat perhatian khusus karena lokasinya berdekatan dengan permukiman warga. Satu rumah dilaporkan terdampak api sehingga petugas gabungan dikerahkan untuk mencegah kebakaran meluas.

“Turun semua personel karena sekelilingnya rumah semua. Satu rumah yang kena. Cuma enggak sampai permukimannya rumah-rumah orang. Diturunkan semua armada, TNI-Polri, Perkim, PU, Damkar, Petung, Penajam, BPBD, PHKT. Karena luas banget dan dekat rumah juga,” ujarnya.

Nurlaila turut menyoroti aktivitas pembakaran yang diduga menjadi pemicu sebagian besar kejadian karhutla. Menurut perkiraannya, sekitar 95 persen kebakaran bermula dari aktivitas manusia, baik pembakaran sampah, pembersihan lahan, maupun tindakan yang disengaja.

Baca  Gubernur Kaltim Dukung Balikpapan Jadi Contoh Nasional Kelola Sampah

“Kalau rata-rata ya pasti menurut saya 95 persen dibakar di awal itu. Entah itu hanya bakar sampah, entah itu memang pembersihan lahan, entah itu memang disengaja,” ungkapnya.

Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran sembarangan, terutama saat cuaca ekstrem. Api kecil sekalipun berpotensi meluas dan sulit dikendalikan, khususnya di kawasan gambut yang menyimpan bara hingga ke lapisan tanah. (ta/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button