Opini

Secangkir Kopi dan Statistik Kemiskinan: Saat Angka Duduk di Meja Warung Kaltim

Oleh: Riyawan, S.Hut – Pemerhati Sosial & Budaya

Editorialkaltim.com – Pagi di warung kopi di perempatan jalan menuju sekolah anakku terasa sakral. Uap hitam kopi naik perlahan seperti doa, tawa pecah lirih, sepeda motor bersandar pasrah, dan hidup sejenak berhenti, menunggu matahari memberi izin.

“Kita ini harus bersyukur, kawan,” kata Cak Huda sambil menyeruput kopi.

“Masih punya rumah di Tenggarong, masih kerja, masih bisa usaha kecil-kecilan. Secara statistik, kita aman.”

Kami saling mengangguk. Di atas meja kayu warung kopi, kemiskinan menatap tanpa kedip. Cicilan berdentang di kepala, ongkos sekolah menggerogoti sunyi, dan bulan depan terasa seperti ancaman yang datang diam-diam.

Obrolan pagi itu berubah ketika angka-angka ikut duduk dan ikut bicara.

Obrolan Warung Kopi: Rasa Cukup yang Tak Selalu Diakui Angka

Di mata dunia, rasa cukup ala warung kopi belum tentu cukup. Dengan standar global negara berpendapatan menengah atas sekitar US$6,85 per hari atau setara Rp3,4–3,5 juta per bulan, Indonesia dicatat memiliki sekitar 60 persen penduduk di bawah garis kemiskinan internasional.

Cak Huda kembali mendominasi obrolan.

“Lho… itu kan mirip UMR,” katanya.

Buruh, sopir, pedagang kecil, sampai pelaku UMKM hidup di angka itu. Hidup, tapi ringkih. Bertahan, tapi tak pernah benar-benar naik kelas. Di sinilah ironi menggigit. Di kampung kita jungkir balik mencari nafkah, di laporan global kita cuma jadi statistik kemiskinan.

Warung kopi kecil itu seakan menjadi miniatur Indonesia. Tempat orang bercanda sambil menimbang masa depan, menyeruput kopi sambil menghitung sisa hari menuju gajian berikutnya. Rasa bahagia tetap ada, tapi tipis. Rapuh. Mudah retak oleh satu kenaikan harga atau satu musibah kecil.

Baca  Menakar Polemik Pengangkatan Dewan Pengawas RSUD di Kaltim

Masalah Kesejahteraan: Bahagia yang Lahir dari Ketahanan, Bukan Perlindungan

Badan Pusat Statistik mencatat puluhan juta warga Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Jutaan lainnya berdiri tepat di atasnya. Satu guncangan kecil saja bisa menjatuhkan, seperti beras naik, pekerjaan hilang, atau sakit datang tanpa aba-aba.

Di saat yang sama, inflasi pangan melaju lebih kencang dibanding inflasi umum. Beban pun jatuh ke pundak yang paling ringan, seperti rumah tangga berpendapatan rendah. Perut mereka mencicipi inflasi lebih dulu. Lebih keras. Lebih lama.

Jika dalam kondisi seperti ini rakyat masih tersenyum, itu bukan karena negara telah memeluk mereka dengan sejahtera, melainkan karena daya hidup yang diwariskan bertahun-tahun. Budaya bertahan. Ketahanan yang ditempa oleh kekurangan.

Bahagia di sini bukan buah kebijakan. Ia lahir dari kebiasaan menahan lapar, dari doa kecil di dapur sempit, dari harapan yang terus disimpan meski dunia kerap lupa. Namun, ketahanan punya batas. Dan terlalu sering, batas itu diuji tanpa ada jaring pengaman yang cukup.

Lembaga internasional seperti Bank Dunia berulang kali mengingatkan, ketimpangan ekonomi Indonesia masih menjadi luka terbuka. Kekayaan menumpuk di segelintir tangan, sementara mayoritas hidup dengan tabungan tipis yang tak cukup untuk menahan badai panjang.

Dalam struktur seperti ini, narasi “rakyat bahagia” justru berbahaya. Ia menormalkan jurang. Mengaburkan ketidakadilan. Perlahan menggeser perhatian dari kewajiban negara menjadi tuntutan agar rakyat terus pandai “bersyukur”.

Baca  Ujian Fiskal di Daerah, Inovasi atau Krisis?

Rakyat Indonesia memang tangguh. Mereka tersenyum di tengah kesulitan, berbagi di tengah kekurangan, dan tetap santun meski hidup menekan dari segala arah. Tapi ketangguhan bukan alasan untuk membiarkan mereka berjalan sendirian.

Narasi “miskin tapi bahagia” bukan pujian. Ia adalah pembiaran yang dibungkus kata manis.

Data Kemiskinan Kaltim: Angka Naik, Kota Jadi Titik Rawan

Berdasarkan data terbaru yang dirilis BPS Kalimantan Timur pada awal Februari 2026, persentase penduduk miskin di Kaltim pada September 2025 tercatat sebesar 5,19 persen, naik 0,02 poin persentase dibanding Maret 2025. Jumlah penduduk miskin mencapai 202,04 ribu orang, bertambah sekitar 2,33 ribu orang dalam tujuh bulan terakhir.

Ini bukan sekadar statistik. Ini wajah-wajah nyata. Dapur yang kian sunyi. Dompet yang makin tipis.

Ironisnya, lonjakan kemiskinan justru terjadi di wilayah perkotaan. Pada September 2025, persentase penduduk miskin perkotaan mencapai 4,31 persen, meningkat dibanding Maret 2025. Sementara di perdesaan, angkanya turun menjadi 7,24 persen.

Jumlah penduduk miskin di kota bertambah 4,87 ribu orang, sementara di desa justru berkurang 2,54 ribu orang. Kota yang selama ini digadang sebagai pusat pertumbuhan malah melahirkan lebih banyak warga miskin baru.

Garis kemiskinan Kaltim pada September 2025 tercatat sebesar Rp897.759 per kapita per bulan. Jika dirata-rata, satu keluarga miskin hidup dengan sekitar Rp4,6 juta per bulan. Dari angka itu, mereka harus makan, membayar listrik, ongkos sekolah anak, transportasi kerja, dan berharap tidak jatuh sakit.

Baca  Narasi A. M. Akbar Bentuk Kebebasan Berpendapat Di Negara Demokrasi

Beras masih menjadi penentu hidup-mati dapur, disusul rokok, ayam, telur, dan mi instan yang menjadi menu bertahan hidup kelas bawah.

Secara nasional, Kaltim memang masih masuk tujuh provinsi dengan tingkat kemiskinan terendah. Namun di balik angka itu, ada daerah seperti Kutai Kartanegara dengan jumlah penduduk miskin tertinggi, serta Kutai Barat yang mencatat persentase kemiskinan mencapai 8,72 persen.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah menyiapkan sejumlah langkah melalui Rencana Penanggulangan Kemiskinan Daerah (RPKD). Mulai dari digitalisasi bantuan sosial lewat DTSEN, penanganan kemiskinan ekstrem bagi sekitar 1.500 KPM, pengendalian inflasi pangan, hingga program pemberdayaan seperti Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan padat karya.

Namun satu hal tetap perlu dijaga, jangan sampai kita terlalu cepat merayakan senyum rakyat, sementara ribuan lainnya baru saja tergelincir pelan-pelan ke bawah garis kemiskinan.

Kalimantan Timur hari ini adalah daerah kaya sumber daya, tapi miskin perlindungan. Tanah subur investasi, tapi rapuh bagi warganya sendiri. Kemiskinan tidak datang seperti badai. Ia merayap. Diam-diam. Dari dapur ke ruang tamu, dari dompet ke masa depan.

Dan ketika rakyat masih dipaksa tersenyum, pertanyaannya tetap sama: apakah ini kebahagiaan atau sekadar ketahanan yang terlalu lama dibiarkan sendirian?(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi editorialkaltim.com

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button