KaltimSamarindaZona Kampus

Franz Magnis Suseno Sebut Zayed Award untuk Muhammadiyah Bentuk Pengakuan Internasional

Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ (Foto: Editorialkaltim/Adryan)

Editorialkaltim.com – Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ, menegaskan penganugerahan The Zayed Award for Human Fraternity for World Peace and Living Together kepada Muhammadiyah merupakan bentuk pengakuan internasional atas kontribusi nyata organisasi tersebut dalam bidang kemanusiaan, keadilan, dan pendidikan.

Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara utama dalam Seminar Peringatan Dua Tahun Penganugerahan Zayed Award di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Samarinda, Kamis (12/2/2026).

Menurutnya, peran Muhammadiyah, khususnya di bidang pendidikan, menjadi salah satu kunci penting dalam membentuk Indonesia seperti saat ini.

“Kita harus bangga punya Muhammadiyah,” tegasnya di hadapan peserta seminar.

Franz menjelaskan, sejak kelahirannya di Yogyakarta, Muhammadiyah telah menunjukkan sikap keterbukaan, toleransi, dan saling menghormati. Ia mencontohkan persahabatan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dengan tokoh-tokoh Katolik sebagai teladan nyata dialog lintas iman yang telah dipraktikkan jauh sebelum isu tersebut mengemuka di tingkat global.

Baca  Nekat Curi Laptop Pegawai, OB di Mall Pelayanan Publik Kukar Diciduk dengan Kerugian Rp60 Juta

Selain itu, ia juga menyinggung peran penting Muhammadiyah dalam proses penyusunan dasar negara, khususnya Undang-Undang Dasar 1945. Ia menilai keputusan para tokoh Muslim yang tidak memaksakan redaksi dengan mengatasnamakan satu agama tertentu dalam konstitusi merupakan bentuk keluhuran hati demi menjaga persatuan bangsa.

“Pada 18 Agustus, sehari setelah Proklamasi, UUD yang telah dipersiapkan akhirnya disahkan. Mayoritas tidak menuntut kedudukan istimewa. Itu adalah keluasan hati yang menyelamatkan persatuan Indonesia,” ungkapnya.

Baca  Subandi Puji Kontribusi Nyata Warga Buton di Samarinda

Ia menambahkan, Indonesia mampu menegaskan identitas negara yang tidak bersaing dengan agama maupun budaya. Hal itu, menurutnya, berbeda dengan sejumlah negara lain yang masih dilanda konflik akibat perbedaan.

“Myanmar adalah salah satu negara terpecah bela.  Segala macam perang banyak terjadi di Afrika-Asia. Sedangkan Indonesia dengan UU mendasarkan pada pancasila kokoh bersatu. Tentu kita semua belajar bahwa Indonesia merdeka melalui proses belajar dan kami sejak semula terasa terintegrasi dan diterima baik di Indonesia,” ungkapnya.

Meski demikian, Franz mengingatkan tantangan ke depan tidaklah ringan. Target Indonesia Emas 2045 dinilainya masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari lemahnya kompetensi, krisis kepercayaan terhadap lembaga perwakilan rakyat, hingga praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Baca  Stand Pameran Dirjen Bimas Islam Tawarkan Penulisan Nama Kaligrafi Gratis Untuk Pengunjung

Dalam konteks global, meningkatnya kekerasan dan konflik di sejumlah negara seperti Myanmar, Israel, Thailand, dan Kamboja juga menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia.

Di akhir penyampaiannya, ia menyampaikan apresiasi atas kontribusi Muhammadiyah dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman umat beragama. Ia menilai peran tersebut memberi alasan untuk tetap optimistis memandang masa depan.

“Terima kasih Muhammadiyah, karena telah memberi alasan bagi kita untuk tetap melihat masa depan dengan harapan,” pungkasnya. (adr/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button