BGN Sentil Mitra Dapur MBG: Jangan Cuma Duduk Manis Dapat Rp 6 Juta Sehari

Editorialkaltim.com – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan mitra tidak boleh lepas tangan dalam operasional dapur Satuan Pelaksana Pelayanan Gizi (SPPG) pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia meminta mitra benar-benar bertanggung jawab dan terlibat langsung dalam pengelolaan dapur.
Hal itu disampaikan Nanik saat acara Sosialisasi dan Penguatan Tata Kelola MBG serta Pengawasan dan Pemantauan SPPG di Kabupaten Pacitan, belum lama ini.
“Anda di rumah, cuma nyuruh pembantu atau siapa untuk melihat dapur, terus (Anda) kongko-kongko dapat Rp 6 juta sehari, itu keterlaluan,” ujar Nanik.
Nanik menekankan mitra wajib memantau langsung tata kelola dapur SPPG setiap hari. Bahkan, mitra diminta menyiapkan kepala koki cadangan sebagai bagian dari pengawasan alur memasak agar kualitas dan keamanan pangan tetap terjaga.
Ia mengingatkan, insentif Rp 6 juta per hari yang diterima mitra sudah termasuk biaya sewa peralatan dapur. Karena itu, seluruh perlengkapan dapur MBG harus disiapkan secara optimal dan dalam kondisi baru. “Semua peralatan yang dipakai di dapur MBG wajib baru,” tegasnya.
Selain itu, mitra diwajibkan membangun dapur sesuai Petunjuk Teknis (Juknis) BGN. Kepatuhan terhadap juknis tersebut menjadi dasar penilaian Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) oleh Dinas Kesehatan.
Dalam hal ketenagakerjaan, mitra juga harus merekrut relawan yang telah lolos tes kesehatan awal dan tes berkala setiap empat bulan sekali. Seluruh pekerja dapur MBG pun wajib didaftarkan ke BPJS Ketenagakerjaan. Meski demikian, Nanik menegaskan mitra tidak boleh menolak calon relawan penyandang disabilitas selama memenuhi persyaratan.
Namun, di sisi lain, mitra juga dilarang mengintervensi atau mendominasi pengelolaan dapur SPPG, terutama terkait penentuan menu yang menjadi kewenangan ahli gizi.
“Masa makanan sudah disusun ahli gizi terus (Anda) mengambil alih. Ini yang terjadi viral, yang sekarang lagi ramai. Ini intervensi. Lah sampeyan itu, sing pinter itu Ahli Gizi, opo sampeyan? (Yang pintar itu ahli gizi atau Anda?),” kata Nanik dengan nada tegas.
Nanik yang juga menjabat Ketua Harian Tim Koordinasi 17 Kementerian dan Lembaga Pelaksana Program MBG mengungkapkan, sanksi berupa penghentian sementara atau suspend dapur kini tidak hanya diberikan akibat insiden keamanan pangan.
“Yang kita suspend juga adalah kalau bapak/ibu mitra tidak benar dalam menggunakan anggaran Rp 10 ribu, akan kita audit. Nah, kalau nggak bener kita suspend,” ujarnya.
Menurut Nanik, penyelewengan anggaran belanja bahan baku menjadi temuan serius hasil investigasi timnya. Ia menyebut ada mitra yang bermain anggaran, bahkan bekerja sama dengan oknum Kepala SPPG, sehingga berdampak pada buruknya kualitas makanan dan tidak terpenuhinya nilai gizi.
Meski mitra berhak melakukan belanja bahan makanan karena Kepala SPPG sebagai ASN tidak diperkenankan terlibat langsung dalam transaksi, seluruh pembelian tetap harus diketahui Kepala SPPG. Sebaliknya, Kepala SPPG juga dituntut memahami harga pasar agar tidak dipermainkan mitra.
Nanik mengaku masih bisa memaklumi mitra yang mengambil keuntungan kecil. Namun, ia menegaskan tidak akan mentolerir mitra yang merekayasa menu, menggunakan bahan pangan berkualitas rendah, atau tidak mengoptimalkan anggaran Rp 10 ribu per porsi.
“Begitu saya tahu dan menemukan mitra intervensi dalam penentuan menu dan belanja bahan baku kualitas nomor dua, saya akan langsung suspend satu minggu,” kata Nanik.(ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



