
Editorialkaltim.com – Banyak pekerja mengeluh gaji selalu habis sebelum akhir bulan. Salah satu penyebabnya, alokasi keuangan yang belum tertata dengan baik, terutama soal tabungan dari gaji.
Pertanyaan klasik pun muncul: sebenarnya berapa persen gaji yang ideal untuk ditabung? Jawabannya tidak tunggal. Besaran tabungan sangat bergantung pada kondisi finansial, beban pengeluaran, hingga gaya hidup masing-masing orang.
Meski begitu, diolah berbagai sumber ada sejumlah pola pengelolaan keuangan yang kerap dijadikan rujukan karena dinilai realistis dan mudah diterapkan.
Salah satu pola yang paling umum digunakan adalah metode 50/30/20. Dalam skema ini, separuh gaji digunakan untuk kebutuhan pokok seperti makan, transportasi, listrik, air, dan kebutuhan rutin lainnya.
Sebanyak 30% dialokasikan untuk kebutuhan non-pokok atau keinginan pribadi, mulai dari hiburan, belanja, hingga liburan singkat. Sementara 20% sisanya disarankan untuk ditabung atau diinvestasikan.
Sebagai gambaran, jika gaji Rp 5 juta per bulan, maka Rp 1 juta bisa langsung diamankan sebagai tabungan. Skema ini dinilai fleksibel dan cocok bagi pekerja dengan pendapatan tetap.
Bagi yang memiliki cicilan atau tanggungan rutin, metode 40/30/20/10 bisa menjadi pilihan. Sebanyak 40% gaji digunakan untuk kebutuhan harian, 30% untuk cicilan atau utang, 20% untuk tabungan dan investasi, serta 10% untuk kebutuhan sosial atau dana darurat.
Porsi dana sosial ini bisa dialokasikan untuk zakat, sedekah, atau disimpan sebagai cadangan jika terjadi kondisi tak terduga.
Besaran tabungan tidak akan berarti jika tidak dikelola dengan benar. Langkah awal yang penting adalah menentukan tujuan menabung, misalnya untuk dana darurat, pendidikan, atau membeli barang tertentu.
Selain itu, penyusunan anggaran bulanan menjadi kunci agar pengeluaran tetap terkendali. Memisahkan rekening gaji dan tabungan juga membantu mencegah dana tabungan terpakai tanpa sadar.
Agar lebih konsisten, fitur auto-debit bisa dimanfaatkan supaya tabungan langsung terpotong otomatis setiap bulan. Disiplin menyetor tabungan dan rutin mengevaluasi kondisi keuangan juga penting agar target tetap tercapai.
Pada akhirnya, tidak ada angka baku soal berapa persen tabungan dari gaji. Yang terpenting adalah konsistensi dan komitmen menyisihkan penghasilan, sekecil apa pun nilainya, demi kondisi keuangan yang lebih sehat ke depan.(ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



