Kalimantan Timur Disiapkan Jadi Sentra Obat Ikan Alami Dunia Lewat Riset Profesor Unmul

Editorialkaltim.com – Kalimantan Timur disiapkan menjadi sentra penghasil bahan baku obat ikan alami berkelas dunia melalui riset anestesi dan analgesik berbahan kemangi yang dikembangkan Profesor Esti Handayani Hardi dari Universitas Mulawarman (Unmul).
Tanaman kemangi (Ocimum sp) yang digunakan berasal dari famili Lamiaceae dan diseleksi dari tujuh kabupaten/kota di Kalimantan Timur, yakni Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, Paser, Bontang, Berau, Kutai Barat, dan Mahakam Ulu.
Hasil pengujian sebelumnya menunjukkan kemangi asal Kutai Kartanegara terdiri dari tiga spesies dengan keragaman aktivitas antibakteri serta kandungan eugenol yang berpotensi tinggi sebagai bahan anestesi alami.
“Berau, Bontang, Kukar, PPU, Paser, Kubar, Mahulu menjadi target penghasil eugenol dan mentol terbaik di indonesia dan dunia,” kata Esti.
Riset ini dirancang berlangsung selama tiga tahun. Pada tahun pertama dilakukan uji in vitro yang meliputi seleksi dan karakterisasi bahan baku, proses ekstraksi, karakterisasi senyawa aktif, uji mikroba, uji toksisitas, serta uji anestesi.
Tahun kedua dilanjutkan dengan uji in vivo pada ikan dan udang, sementara tahun ketiga difokuskan pada uji lapang prototipe dan penyusunan dokumen izin edar.
Luaran utama penelitian ini adalah prototipe obat ikan alami dengan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 7 yang telah diuji di lingkungan terbatas dan umum. Prototipe tersebut ditargetkan siap diajukan izin edar ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI serta ditingkatkan skala produksinya oleh industri mitra, CV Bioperkasa.
Selain produk, riset ini juga menargetkan capaian akademik dan kekayaan intelektual. Pada tahun pertama 2026 akan dihasilkan publikasi ilmiah yang sedang dalam proses penelaahan (under review) pada jurnal internasional bereputasi, yakni Aquaculture Journal terbitan Elsevier. Pada tahun kedua ditargetkan terbit paten formula analgesik dan anestesi untuk ikan dan udang.
Pendanaan riset ini diberikan secara bertahap, yakni Rp189 juta pada tahun pertama, Rp183,5 juta pada tahun kedua, dan Rp198,9 juta pada tahun ketiga.
“Melalui riset ini akan mendorong nilai tambah kemangi, mendorong kemandirian obat anastesi, dan tentunya menciptakan obat alami yg ramah lingkungan,” tutup Esti.(ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



