BalikpapanKaltim

IRT di Balikpapan Diperas Kenalan TikTok Rp 30 Juta hingga Nyaris Bunuh Diri

Saat evakuasi Seorang ibu rumah tangga (IRT) berinisial SW (34) di laut (Foto: Humas Polres)

Editorialkaltim.com — Seorang ibu rumah tangga (IRT) berinisial SW (34) menjadi korban pemerasan hingga Rp 30 juta setelah berkenalan dengan seseorang melalui media sosial TikTok. Tekanan psikologis akibat teror berulang yang dialaminya membuat korban nekat melompat dari kapal ferry pada Minggu (18/1/2026).

Kapolsek Penajam, Syaifudin, mengatakan korban kini telah dipulangkan ke rumahnya di Kota Balikpapan untuk mendapatkan pendampingan keluarga.

Berdasarkan keterangan kepolisian, korban mengenal pelaku berinisial D selama kurang lebih satu pekan melalui TikTok dan menjalin komunikasi secara intens. Dalam proses tersebut, korban ditipu hingga diminta mengirimkan video asusila yang kemudian dijadikan alat pemerasan oleh pelaku.

Baca  Plt Disdikbud Kaltim Soroti Pentingnya Peran Budaya dalam Pembangunan IKN

“Korban ini merupakan seorang ibu rumah tangga,” ujar Syaifudin, Rabu (21/01/2026).

Syaifudin menjelaskan, pada hari kejadian pelaku mulai menghubungi korban sejak sekitar pukul 09.00 WITA dan terus melakukan teror. Tekanan mental yang dialami korban membuatnya panik, berjalan tanpa tujuan, hingga akhirnya naik kapal ferry menuju Penajam meski tidak memiliki uang.

“Dia sudah kalut. Tidak tahu mau ke mana, tiba-tiba terpikir ke Penajam,” jelasnya.

Hingga saat ini, identitas dan keberadaan pelaku masih dalam penyelidikan. Seluruh akun media sosial yang digunakan pelaku diketahui telah dinonaktifkan sehingga menyulitkan proses penelusuran.

Baca  Dewan Kaltim Soroti Infrastruktur Tiga Kecamatan Kukar

Kondisi korban pun disebut masih mengalami trauma berat. Setiap kali dimintai keterangan terkait kejadian tersebut, korban kerap pingsan.

“Secara fisik sudah membaik, tetapi kondisi psikologisnya masih sangat terguncang,” tambahnya.

Atas kondisi tersebut, pihak kepolisian memutuskan untuk menghentikan sementara proses pemeriksaan. Suami korban juga telah datang dan meminta agar kasus ini tidak dibahas lebih lanjut hingga kondisi psikologis istrinya benar-benar pulih.

Syaifudin menegaskan, pada awalnya komunikasi antara korban dan pelaku berlangsung seperti pertemanan biasa, tanpa melalui siaran langsung atau interaksi publik lainnya.

Baca  Paser Siap Jadi Tuan Rumah Pekan Olahraga Korpri 2024, Sepuluh Cabang Dipertandingkan

Terkait kasus serupa, ia mengakui penipuan melalui media sosial kerap terjadi, khususnya di kota besar seperti Balikpapan, meski dengan modus yang berbeda-beda.

“Kalau penipuan online seperti jual beli bodong, itu memang sering,” ujarnya.

Saat ini, kasus tersebut masih ditangani Polsek Penajam dan belum dilimpahkan ke kepolisian di wilayah asal korban.

“Proses penyelidikan masih berjalan,” pungkasnya. (tin/ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button