Survei Ungkap 78% Pekerja RI Khawatir AI Ubah Pekerjaan

Editorialkaltim.com– Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masih memicu kegelisahan di kalangan pekerja Indonesia. Survei BCG/The Network/Stepstone Group tahun 2023 mencatat, 78% pekerja percaya AI akan mengubah pekerjaan yang mereka jalani saat ini.
Bahkan, empat dari sepuluh responden memperkirakan perubahan tersebut akan berdampak besar terhadap peran dan fungsi kerja. Kekhawatiran paling kuat muncul di sektor yang bersentuhan langsung dengan teknologi, seperti digitalisasi, data science, AI, layanan keuangan, penjualan, layanan pelanggan, hingga administrasi.
Meski demikian, survei yang sama menunjukkan kekhawatiran itu tidak sepenuhnya bermakna ancaman hilangnya pekerjaan. Mayoritas sektor justru melihat AI sebagai pemicu pergeseran peran kerja dan meningkatnya kebutuhan peningkatan keterampilan atau reskilling.
Dari sisi industri, Head of AI Product SEEK, Rishi Patil, menegaskan bahwa posisi manusia tetap tidak tergantikan, terutama dalam pengambilan keputusan. Menurutnya, faktor budaya perusahaan, relasi antarmanusia, serta penilaian berbasis konteks tidak bisa diambil alih oleh teknologi.
“Perusahaan adalah kumpulan manusia yang bekerja bersama. AI hanya memperkuat cara mereka bekerja, bukan menggantikannya,” ujarnya dikutip dari CNBC Indonesia.
Rishi menjelaskan, AI berperan sebagai pengali kemampuan kognitif atau cognitive multiplier. Teknologi ini membantu manusia memproses informasi lebih cepat, menyusun prediksi, dan memperbaiki kualitas keputusan.
“AI tidak pernah mengambil keputusan akhir. AI membantu manusia membuat keputusan yang lebih cepat, lebih percaya diri, dan lebih akurat. Keputusan tetap berada di tangan manusia,” ujarnya.
Dalam praktik rekrutmen, AI kini banyak mengambil alih pekerjaan teknis dan berulang, seperti membuat iklan lowongan, menyaring kandidat, menilai kecocokan pelamar, hingga mengatur jadwal wawancara. Perubahan ini membuat peran perekrut ikut bergeser.
Dengan berkurangnya beban administratif, perekrut dinilai memiliki ruang lebih luas untuk fokus pada aspek strategis, mulai dari membangun hubungan dengan kandidat, memahami karakter organisasi, hingga menyusun kebutuhan tenaga kerja jangka panjang.
“Yang berubah bukan peran manusia, tapi cara manusia bekerja. Beban administratif berkurang, ruang untuk berpikir strategis justru semakin besar,” kata Rishi.
Rishi pun menekankan pentingnya perubahan cara pandang pekerja terhadap AI. Ia menilai ketakutan tidak akan relevan jika pekerja mampu memahami dan memanfaatkan teknologi tersebut.(ndi)
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.



