Opini

Generasi Emas atau Ilusi Emas? Membaca Ulang Arah Pembangunan SDM dan Ekonomi Kreatif Kalimantan Timur

Oleh: Riyawan, S.Hut – Pengamat Sosial

Editprialkaltim.com – Peringatan hari jadi Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Berdiri resmi sebagai daerah otonom sejak 9 Januari 1957 berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1956, Kaltim lahir dari perjuangan panjang untuk memperoleh kemandirian politik dan administratif. Semangat itulah yang seharusnya terus menjadi fondasi pembangunan hari ini.

Memasuki usia ke-69, Kaltim mengusung tema besar “Kaltim Sukses Menuju Generasi Emas”. Di bawah kepemimpinan Gubernur Rudy Mas’ud, visi membangun manusia unggul dan berkarakter digaungkan sebagai arah baru pembangunan. Namun, pertanyaan krusial yang muncul sederhana tetapi mendasar: apakah Generasi Emas ini benar-benar sedang dibangun, atau hanya berhenti sebagai slogan?

Momentum HUT Kaltim: Refleksi atau Sekadar Seremoni?

Logo angka 69, upacara resmi, hingga agenda Pekan Raya Kaltim (PRK) menjadi wajah optimisme perayaan. Secara simbolik, semua itu penting untuk menjaga memori kolektif dan rasa memiliki masyarakat terhadap daerahnya. Namun, di balik kemeriahan tersebut, esensi keberhasilan HUT seharusnya diukur dari satu hal: sejauh mana perayaan ini menjadi momentum evaluasi kebijakan pembangunan.

Narasi “sederhana namun khidmat” yang kerap disampaikan pemerintah juga patut diuji. Kekhidmatan bukan soal minimnya acara, melainkan kedalaman refleksi dan keberanian melakukan koreksi arah kebijakan. Tanpa indikator yang jelas, klaim tersebut berisiko menjadi retorika birokratis yang sulit diverifikasi dampaknya.

Generasi Emas dan Bonus Demografi: Peluang Besar yang Rapuh

Secara demografis, Kaltim berada pada posisi strategis. Lebih dari 53 persen penduduknya berada di rentang usia produktif 5–39 tahun. Ini merupakan bonus demografi yang, jika dikelola dengan tepat, dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Baca  Mewarisi Semangat Kartini: Perempuan dan Perjuangan Kesetaraan di Zaman Digital

Namun, bonus demografi bukan hadiah otomatis. Tanpa kebijakan pendidikan, kesehatan, dan penciptaan lapangan kerja yang terintegrasi, struktur usia produktif justru berpotensi berubah menjadi beban sosial di masa depan. Terlebih lagi, proporsi penduduk lanjut usia yang saat ini masih rendah menuntut perencanaan jaminan sosial sejak dini agar tidak menimbulkan tekanan ganda di kemudian hari.

IPM Tinggi, tetapi Kualitas SDM Masih Stagnan

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kaltim memang menunjukkan tren peningkatan dan relatif unggul secara regional. Namun, jika dibedah lebih dalam, kenaikan tersebut didominasi oleh Harapan Lama Sekolah (HLS), sementara Rata-rata Lama Sekolah (RLS) meningkat sangat tipis.

Fakta bahwa mayoritas penduduk hanya menamatkan pendidikan hingga SMP menunjukkan adanya masalah struktural. Akses ke SMA/SMK berkualitas masih timpang, tekanan ekonomi mendorong anak muda cepat masuk pasar kerja, dan relevansi pendidikan dengan kebutuhan industri lokal belum optimal.

Literasi dasar yang baik sering kali menutup kenyataan bahwa keterampilan teknis dan kompetensi kerja masih tertinggal. Inilah paradoks pembangunan SDM Kaltim: angka statistik terlihat menjanjikan, tetapi kualitas daya saing tenaga kerja belum benar-benar siap menghadapi ekonomi masa depan.

Ketergantungan Ekstraktif dan Ancaman Resource Curse

Struktur ekonomi Kaltim hingga kini masih sangat bergantung pada sektor migas dan batu bara. Ketergantungan ini menciptakan pertumbuhan ekonomi yang fluktuatif dan rentan terhadap gejolak harga komoditas global.

Baca  Akademisi Unmul Minta Jangan Terkecoh Janji, Perhatikan Solusi Nyata Paslon untuk Paser

Analisis Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menunjukkan bahwa ketika sektor ekstraktif dikeluarkan, kontribusi sektor lain terhadap ekonomi daerah masih sangat kecil. Artinya, transformasi ekonomi belum benar-benar terjadi. Industri pengolahan masih bergantung pada bahan baku tambang, sehingga nilai tambah yang dihasilkan terbatas dan tidak menyerap tenaga kerja secara luas.

Kondisi ini memperkuat gejala resource curse, di mana kekayaan alam justru menghambat diversifikasi ekonomi dan pemerataan kesejahteraan.

Ekonomi Kreatif Kaltim: Potensi Besar, Implementasi Lemah

Pengakuan bahwa ekonomi kreatif Kaltim tertinggal dibanding daerah lain merupakan langkah awal yang jujur. Potensi budaya dan komunitas kreatif sebenarnya besar, tetapi dampaknya terhadap ekonomi lokal masih minim.

Masalah utamanya terletak pada pendekatan kebijakan yang masih bersifat proyek. Pelaku kreatif kerap terjebak dalam siklus pelatihan tanpa akses pasar, pendanaan, dan distribusi yang berkelanjutan. Dukungan pemerintah cenderung administratif, belum berbasis ekosistem.

Fokus pembangunan yang berat pada infrastruktur fisik, termasuk proyek besar seperti Ibu Kota Nusantara, berisiko mengabaikan infrastruktur kreatif yang tak kalah penting, seperti ruang kreasi, platform digital, dan skema pendanaan inovatif.

Seni Budaya: Hidup, tetapi Belum Berdaya

Aktivitas seni budaya di Kaltim masih bersifat sporadis. Banyak sanggar bergantung pada dana pemerintah dan belum memiliki model keberlanjutan mandiri. Event budaya berskala besar sering kali hanya menjadi atraksi wisata sesaat, bukan wahana regenerasi pelaku seni.

Ketiadaan kalender event daerah yang terkurasi serta strategi digitalisasi membuat banyak potensi budaya lokal gagal menembus pasar nasional. Padahal, dengan pendekatan yang tepat, seni budaya dapat menjadi tulang punggung ekonomi kreatif berbasis identitas lokal.

Baca  KAMMI KALTIMTARA: Tambang Ilegal Itu Ditindak, Jangan Diampuni!

Dari Jargon ke Aksi: Apa yang Harus Dilakukan?

Agar Generasi Emas tidak berhenti sebagai slogan, diperlukan pergeseran kebijakan yang nyata. Pemerintah daerah perlu beralih dari pendekatan sektoral menuju pendekatan ekosistem. Pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, dan pasar kerja harus dirancang saling terhubung.

Investasi pada pendidikan menengah dan vokasi yang relevan, insentif bagi industri non-ekstraktif, serta pembangunan ekosistem kreatif berbasis kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah tidak cukup hanya menjadi penyelenggara program, tetapi harus berperan sebagai katalisator yang mempertemukan akademisi, komunitas, industri, dan investor.

Generasi Emas: Pilihan atau Ilusi?

HUT ke-69 Kaltim seharusnya menjadi titik balik, bukan sekadar perayaan tahunan. Generasi Emas bukan sesuatu yang lahir dari baliho dan slogan, melainkan dari kebijakan yang konsisten, berani, dan berpihak pada masa depan.

Jika momentum ini dimanfaatkan untuk evaluasi jujur dan reformasi struktural, Generasi Emas Kaltim masih sangat mungkin diwujudkan. Namun, tanpa perubahan nyata, istilah tersebut hanya akan menjadi ilusi emas berkilau di permukaan, rapuh di dalam.(*)

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi editorialkaltim.com

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button