Nasional

400 Ribu Wanita Indonesia Dibayangi Risiko Kanker Serviks

Ilustrasi kanker serviks (Foto: Freepik)

Editorialkaltim.com – Sekitar 400 ribu perempuan Indonesia saat ini diperkirakan hidup dalam bayang-bayang kanker leher rahim atau kanker serviks. Namun dari jumlah tersebut, negara baru mampu mendeteksi sekitar 36 ribu kasus, memperlihatkan besarnya kesenjangan antara risiko dan upaya deteksi dini.

Rendahnya angka deteksi ini tak lepas dari minimnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya skrining kanker serviks. Secara nasional, cakupan pemeriksaan baru mencapai sekitar 7 persen, jauh dari target nasional maupun standar global.

Beragam faktor menjadi penghambat. Mulai dari keterbatasan pengetahuan, stigma terhadap pemeriksaan kesehatan reproduksi, hingga akses layanan dan tenaga kesehatan yang belum merata di berbagai daerah.

Baca  Gangguan PDN Bikin Layanan Imigrasi Kacau, DPR Desak Kemenkominfo Segera Bereskan

“Berarti kan masih banyak fenomena gunung es yang belum kita temukan dan kita selalu tahu kalau kita berbicara kanker di Indonesia itu angka kematiannya itu bisa sampai dengan 60-70 persen dan ini juga berlaku untuk kanker leher rahim,” kata Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi di Gedung Prof Sujudi, Kemenkes RI, Selasa (27/1/2025), mengutip Detik.

Meski tantangan masih besar, upaya skrining menunjukkan tren peningkatan. Pada 2024, tercatat sekitar 150 ribu perempuan menjalani pemeriksaan kanker serviks. Angka ini melonjak signifikan pada 2025 menjadi 666 ribu perempuan, meski masih jauh dari angka ideal.

Baca  Jokowi Pengin Indonesia Ciptakan Bahan Bakar Pesawat Terbang dari Kelapa

“Dengan segala keterbatasan, kita bisa mengejar hingga 666 ribu skrining. Ini patut diapresiasi,” kata Nadia.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, sekitar 4 persen perempuan terdeteksi positif HPV. Selain itu, sekitar 17 ribu perempuan telah menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan metode IVA test, sebagai langkah pencegahan agar kanker tidak berkembang ke stadium lanjut.

Namun demikian, tidak semua kasus yang terdeteksi dapat ditindaklanjuti hingga tahap pengobatan lanjutan. Hambatan psikologis dan struktural masih menjadi persoalan di lapangan.

“Banyak kendala di lapangan, mulai dari ketakutan pasien, stigma, hingga kesulitan mengakses rumah sakit rujukan,” jelas Nadia.

Baca  Muhadjir Effendy Ditunjuk Jadi Ketua Tim Pengelola Tambang Muhammadiyah

Pemerintah menargetkan cakupan skrining nasional mencapai 75 persen, melampaui standar global sebesar 70 persen. Saat ini, pemeriksaan difokuskan pada metode HPV DNA yang dinilai lebih akurat dibandingkan pap smear dan telah tersedia secara gratis melalui program cek kesehatan di puskesmas.

Kanker serviks kerap berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Karena itu, deteksi dini menjadi kunci utama untuk menekan angka kematian dan memperbesar peluang kesembuhan bagi perempuan Indonesia.(ndi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari editorialkaltim.com. Follow instagram “editorialkaltim”, caranya klik link https://www.instagram.com/editorialkaltimcom/ untuk mendapatkan informasi terkini lainnya.

Related Articles

Back to top button